Archive for 2015

Membantah Fitnah JONRU, di Iran Tidak Ada Shalat Jum'at

Kamis, 12 November 2015
Posted by ismailamin
Santer tersebar informasi bahwa di Iran itu, tidak ada masjid yang menyelenggarakan shalat Jum’at, karena pemerintah Iran yang Syiah melarang diadakan shalat Jum’at. Terlebih lagi berita-berita seperti itu disebar secara massif oleh situs-situs berita on line berlabel Islam namun isinya tendensius dan cenderung negatif terhadap Republik Islam Iran. Benarkah demikian?

Sebagai warga negara Indonesia yang sementara menetap di Qom, salah satu kota terkenal di Iran, saya memberi kesaksian, memang benar, bagi warga Iran dilarang shalat Jum’at di banyak masjid di satu kota yang sama. Kebijakan pemerintah Iran sebagaimana yang ditetapkan oleh fatwa-fatwa ulama Mufti di Iran, ditetapkan shalat Jum’at harus berpusat di satu tempat disetiap kota atau jarak minimal antara dua tempat yang menyelenggarakan shalat Jum’at sejauh 1 farsakh [sekitar 3 mil]. Dengan adanya ketentuan tersebut, menjelang penyelenggaraan shalat jum’at akan dimulai, masjid-masjid yang tidak ditetapkan sebagai tempat shalat jum’at ditutup dan dilarang beroperasi.

Di Tehran, shalat jum’at diselenggarakan di lapangan besar Universitas Tehran, tiap pekan jutaan warga Tehran baik laki-laki maupun perempuan membanjir sampai meluber kejalan-jalan raya untuk mendengarkan khutbah dan shalat jum’at. Shalat Jum’at di Teheran diikuti oleh pejabat-pejabat tinggi negara, termasuk Presiden Iran dan juga kepala-kepala kedutaan besar negara sahabat. Bagi tamu dari negara-negara asing disediakan alat receiver yang menerjemahkan bahasa persia ke Inggris atau Arab. Yang menjadi khatib selain Ayatullah Sayid Ali Khamenei yang merupakan pemimpin tertinggi di Iran, juga sejumlah ulama besar Iran lainnya yang saling bergantian tiap pekannya, seperti Ayatullah Khatami, Ayatullah Jannati dan Ayatullah Siddiqi.




Di Qom sendiri, shalat Jum’at dipusatkan di masjid Haram Sayidah Maksumah yang terletak di jantung kota Qom. 2-3 jam sebelum shalat Jum’at dimulai, kompleks Haram Sayidah Maksumah telah mulai didatangi ribuan jamaah. Sembari menanti masuknya shalat Jum’at, jamaah yang telah terkumpul dan duduk rapi dishaf-shaf depan, akan disuguhi sejumlah orasi politik maupun ceramah agama oleh pejabat negara ataupun muballigh-muballigh terkenal Qom. Biasanya, jika ada ulama besar atau tokoh Islam dari negara lain yang kebetulan berada di Qom baik dalam rangka sekedar berziarah atau menjadi peserta pertemuan internasional, maka oleh pengelola masjid, ia akan diminta menyampaikan ceramah sebelum khutbah Jum’at disampaikan. Penceramah tamu yang pernah saya dengarkan nasehat keagamaannya di masjid Haram Sayyidah Maksumah berasal dari Mesir, Suriah, Lebanon, Irak, Bahrain bahkan pernah juga dari ulama Ahlus Sunnah yang berasal dari Iran sendiri.

Banyaknya jamaah  yang tidak dapat ditampung oleh masjid, menjadikannya jamaah shalat Jum’at meluber ke badan jalan raya. Diluar masjid, dipasang layar besar, sehingga yang shalat dipelataran masjid bisa melihat penceramah layaknya sedang menonton siaran televisi secara live. Khutbah Jum’at biasanya cukup singkat, paling lama sekitar 15 menit saja, sebab jamaah telah sebelumnya dikenyangkan oleh orasi politik dan penyampaian nasehat keagamaan oleh pembicara-pembicara sebelumnya yang biasanya 2 sampai 3 orang.



Momentum shalat Jum’at di Iran, benar-benar dijadikan media politik. Ratusan ribu sampai jutaan jamaah shalat Jum’at yang hadir, tidak sedikit yang sembari membawa bendera, spanduk dan foto-foto Rahbar, termasuk poster-poster yang bertuliskan kecaman terhadap AS dan Zionis. Tidak jarang, sehabis shalat Jum’at dengan massa sebesar itu, jama’ah Jum’at sekalian melakukan aksi unjuk rasa menyangkut isu-isu terkini. Shalat Jum’at di Iran, tidak hanya dihadiri kaum pria, namun juga kaum perempuan.



Bukan saya sendiri WNI yang menjadi saksi atas penyelenggaraan shalat Jum’at di Iran khususnya di kota Qom. Selain seratusan teman-teman mahasiswa asal Indonesia lainnya yang juga sementara mukim di Qom, juga sejumlah tamu yang saya dampingi untuk melihat langsung pelaksanaan shalat Jum’at di masjid-masjid Iran yang spektakuler. DR. Abdurrahim Razak misalnya, dosen Universitas Muhammadiyah Makassar, yang berada di Qom kurang lebih 20 hari dalam rangka melakukan penelitian untuk bahan disertasinya mengenai Tafsir al Mizan yang ditulis oleh mufassir dan filosof Iran, Allamah Husain Thabathabai pada tahun 2011. Saya mendampingi beliau mengunjungi kota Masyhad, dan menyempatkan shalat Jum’at di kompleks Haram Imam Ridha As. Ia tampak terheran-heran ketika ditengah-tengah ceramah, ribuan warga Iran serentak berdiri meneriakkan yel-yel yang sama sembari mengepalkan tangan, seperti yang biasa tampak dalam aksi-aksi demonstasi di jalan-jalan. Tanpa diminta, saya memberi penjelasan, “Mereka ini sedang meneriakkan, kecaman terhadap Amerika Serikat dan Zionis Israel.” Ia menimpali, “Bukannya saat mendengarkan khutbah Jum’at, kita harusnya khusyuk mendengarkan?”. Saya hanya menjawab, “Yang kita dengarkan saat ini pak, bukan khutbah Jum’at melainkan orasi politik yang mengecam kebijakan politik luar negeri AS yang anti Islam.” Beliau hanya mengangguk tanda mengerti.


Saya juga pernah kedatangan tamu, Muhammad Chozien Amirullah ketua umum PB HMI [2009-2011] yang berada di Iran pertengahan tahun 2010 untuk menghadiri konferensi 6th Gathering of the Union of Islamic World Students di Tehran.  Disela-sela kepadatan jadwal mengikuti agenda konferensi, ia menyempatkan diri ke Qom dan bersilaturahmi ke kediaman saya sebagai sesama aktivis HMI. Ia menceritakan betapa takjubnya ia berada ditengah-tengah lautan manusia saat menyelenggarakan shalat Jum’at di Teheran. Ia berkata, ““Saya lebih melihat shalat jumat di Teheran seperti shalat idul fitri di Indonesia yang terpusat di satu tempat. Dengan penyelenggaraan shalat Jum’at seperti itu, maka relevansi shalat Jum’at sebagai ibadah politik benar-benar sangat saya rasakan.” Chozien bahkan menuliskan pengalaman shalat Jum’at di Teheran tersebut yang disebutnya sebagai forum rakyat untuk mengkonsolidasikan dan menjaga semangat revolusi Islam, Tulisannya tersebut dimuat di situs resmi PB HMI dan disejumlah blog-blog Islam.

Ada beberapa tamu lagi yang sempat saya dampingi, turut merasakan gempitanya shalat Jum’at di Iran. Mereka menggambarkan diri, seolah berada ditengah-tengah lautan demonstran dan aksi unjuk rasa, yang dikomandai seorang korlap dengan orasi yang berapi-api. Tidak semuanya masjid Iran yang bisa menyelenggarakan shalat Jum’at tersebut, membuat Dahlan Iskan ketika baru tiba di Teheran dan tepat di hari Jum’at menjadi kecele. Sebab masjid bandara yang didatanginya malah tutup dan tidak ada shalat Jum’at disitu. Pengalamannya itu ditulis di media, dan disalah artikan oleh sejumlah pihak dengan menyimpulkan, di Iran yang mengaku negara Islam kok tidak ada shalat Jum’atnya?.

Pak Dahlan Iskan menulis:

“Memang ada masjid di bandara itu tapi tidak dipakai sembahyang Jumat. Saya pun minta diantarkan ke desa atau kota kecil terdekat. Ternyata saya kecele. Di Iran tidak banyak tempat yang menyelenggarakan sembahyang Jumat. Bahkan di kota sebesar Teheran, ibukota negara dengan penduduk 16 juta orang itu, hanya ada satu tempat sembahyang Jumat. Itu pun bukan di masjid tapi di universitas Teheran. Dari bandara memerlukan waktu perjalanan 1 jam. Atau bisa juga ke kota suci Qum. Tapi jaraknya lebih jauh lagi. Di Negara Islam Iran, Jumatan hanya diselenggarakan di satu tempat saja di setiap kota besar.

“Jadi, tidak ada tempat Jumatan di bandara ini?,” tanya saya.

“Tidak ada. Kalau kita kita mau Jumatan harus ke Teheran (40 km)  atau ke Qum (70 km). Sampai di sana waktunya sudah lewat,” katanya.”

Dahlan Iskan menulis, DI NEGARA ISLAM IRAN, JUMATAN HANYA DISELENGGARAKAN DI SATU TEMPAT SAJA DISETIAP KOTA BESAR…

Dari pengalaman yang dibagi itu, JONRU mengambil kesimpulan:


“Dulu waktu pak Dahlan Iskan tiba di Iran pas di saat jadwal shalat Jumat, dia merasa kesulitan karena tak ada yang shalat Jumat di sana.
Aneh, bukan? Masa negara Islam TAK ADA shalat jumatnya!”
Metode penyimpulan seperti itulah, yang oleh Jonru disebutnya sedang menyampaikan kebenaran.
Sudahkah anda menyebar kebenaran versi Jonru hari ini?

Ismail Amin, sementara menetap di Qom.

[Pernah di muat di Majalah Itrah]

Foto2 berikut, penyelenggaraan shalat Jum’at di kota Esfahan yang dipusatkan di Maydan Imam Khomeini:















Pertama, menyampaikan nasehat, sebagaimana para Anbiyah As juga diutus untuk menyampaikan nasehat dan peringatan…

“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu." [Qs. Al A'raaf: 68]

Kedua, menyadari diri, bahwa kewajiban seorang mukmin hanya menyampaikan nasehat dan peringatan… tidak memaksakan kehendak, apalagi sampai bertindak kasar… baik secara verbal [hate speech/melontarkan kalimat2 ejekan, hinaan dan hujatan] maupun tindakan…

Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. [Qs. Yaasiin: 11]

“Dan supaya aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: "Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan." [Qs. An-Naml: 92]

Ketiga, tetap bersikap adil... sebesar apapun kebencian kepada kesesatan seseorang atau kelompok lain, seorang Mukmin harus tetap mampu bersikap adil. Bahwa jika menyampaikan kesesatan seseorang dihadapan publik agar orang2 awam terhindar dari kesesatan tersebut harus disampaikan dengan hujjah dan bukti2 yang kuat yang bisa dipertanggungjawabkan. Bukan diambil dari khayalan, dongeng2, berita2 hoax dan informasi2 yang tidak jelas sumbernya, hanya agar orang lain menjauh dari kesesatan. Kebencian tidak bisa menjadi alasan bagi seorang Mukmin untuk tidak mempersembahkan keadilan. Kebencian tidak lantas menjadi pembenaran bagi seorang Mukmin untuk tidak melakukan tabayyun dan tidak mengklarifikasi terlebih dahulu setiap informasi yang didapat.

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Qs. Al-Maidah: 8]

Nah, setelah seorang Mukmin memberi peringatan. Maka ada dua kemungkinan:

Pertama, yang bersangkutan menerima nasehat dan dakwah tersebut, dengan menetapi jalan kebenaran. Untuk yang ini, kita ucapkan alhamdulillah, dan melanjutkan bimbingan...

Kedua, yang didakwahi menolak nasehat tersebut, dan tetap pada pendiriannya.

Bentuk penolakan ada dua:

Pertama, sekedar menolak dan tidak mau saja, tanpa memerangi.

Sikap Mukmin pada kelompok pertama, adalah memberikan keleluasan untuk mereka mengamalkan keyakinan sesatnya. Selama itu tidak menzalimi orang lain. Tidak ada hak bagi seorang Mukmin untuk mengurusi dan mengintervensi pilihan keyakinan orang lain, hatta keyakinan itu adalah menolak keberadaan Tuhan. Sebab seorang Mukmin tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan oleh orang-orang yang sesat. Yang dimintai pertanggungjawaban dari orang2 Mukmin, adalah bagaimana caranya menyampaikan peringatan pada mereka yang sesat. Apakah dalam berdakwah tetap sesuai dengan akhlak Islami, yaitu menyampaikan dengan hikmah, dan berdialog dengan cara yang terbaik, atau menyampaikannya dengan cara yang serampangan, kasar dan tanpa etika sama sekali. Tidak ada paksaan dalam agama, adalah aturan Islam yang sangat tegas dalam hal ini...

Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu." [Qs. Yunus: 108]
Ini nasehat Al-Qur’an, bahwa keyakinan sesesat apapun, tidak akan memberi mudharat dan kecelakaan pada orang2 yang telah mendapat petunjuk:

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; TIDAKLAH orang yang sesat itu akan memberi MUDHARAT kepadamu apabila kamu TELAH MENDAPAT PETUNJUK. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [Qs. Al-Maidah: 105]

Jika ada orang2 Mukmin yang mempropagandakan bahayanya suatu aliran sesat tertentu, sembari menakut-nakuti masyarakat bahwa aliran sesat itu sangat mengkhawatirkan, sehingga perlu diadakan aksi-aksi unjuk rasa, mengadakan seminar2 mengenai bahaya suatu aliran tertentu tanpa hujjah yang jelas [hanya berdasar berita2 hoax, kabar2 bohong, fitnah2 yang tidak berdasar dan dilakukan secara in absentia], dan membentuk organisasi anti aliran ini, aliansi anti kelompok itu… maka sesungguhnya, itu karena mereka tidak mendapat petunjuk saja… bisa jadi merekalah orang2 sesat yang sesungguhnya…

Kedua, menolak sembari memerangi dakwah Islam.

Sikap Mukmin pada kelompok yang kedua, adalah membalas memerangi. Syaratnya jika mereka memerangi terlebih dahulu, dan menghalang-halangi umat Islam untuk mengamalkan keyakinannya.
“Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.” [Qs. An Nisaa': 91]

PATUT DIPERHATIKAN..

Bukanlah akhlak seorang Mukmin, jika berhadapan dengan orang2 sesat untuk kelompok yang pertama [sekedar menolak saja tanpa memerangi] untuk mengolok2, menghujat dan bermaksud untuk melecehkan… sebab mengata-ngatai orang lain sesat adalah akhlak orang-orang pendosa.
“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: "Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat", [Qs. Al Muthaffifin: 32]

Yang patut diperhatikan selanjutnya, adalah selalulah berada dalam kondisi untuk senantiasa mencurigai diri sendiri… jangan sampai merasa diri berada pada golongan orang yang beriman, padahal ternyata termasuk diantara orang-orang yang sesat. Sebab Syaitan itu senantiasa memperindah suatu perbuatan buruk, seolah2 yang dilakukan adalah perbuatan yang benar. Jangan mudah menganggap orang lain sesat, hanya karena berbeda dalam memahami. Sebab berbeda belum tentu sesat. Seorang Mukmin akan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah yang Maha Mengetahui, untuk urusan yang tidak dia kuasai sepenuhnya…

Oleh karena itu, dalam hal ini sangat diperlukan ilmu, dan wawasan yang luas, sebelum ikut2an memberi vonis pada orang lain bahwa mereka sesat dst… harus ada informasi yang berimbang yang didapatkan… tidak cukup hanya mendapatkan informasi dari satu pihak, namun telah memvonis pihak lain sesat dan bukan Islam….

Hanya Allah Swt yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk, siapa yang sesat… jangan sampai kita termasuk orang-orang yang tertipu…merasa diri benar, sementara dalam penilaian Allah Swt, justru termasuk orang-orang yang sesat…

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Qs. Al-Qalam: 7]

Untuk itulah, Allah Swt memerintahkan orang2 Mukmin untuk membaca ini dalam shalatnya:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[Qs. Al-Fatihah: 6-7]

Bayangkan, kita diminta untuk membacanya setidaknya 17 kali dalam sehari semalam di dalam 5 waktu shalat2 kita.. artinya, betapa pentingnya senantiasa mencurigai diri, bahwa belum tentu kita sudah termasuk yang mendapat petunjuk, sehingga harus selalu memintanya setiap shalat...
Allahu al-Musta’an…. semoga kita senantiasa termasuk dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan dijauhkan dari kesesatan…

Qom, 27 Oktober 2015
[Ismail Amin]



Peringatan Asyura di Iran, antara Fakta dan Fitnah

Rabu, 21 Oktober 2015
Posted by ismailamin
Kalau sejumlah kaum muslimin di Negara lain menyambut kedatangan bulan Muharram dengan bersuka cita dan saling mengucapkan selamat akan bergantinya tahun, masyarakat Iran justru melarutkan diri dalam majelis-majelis duka. Bulan Muharram bagi masyarakat Iran yang mayoritas bermazhab Syiah adalah bulan duka, bulan yang mengharu biru, bulan yang menggoreskan kenangan akan peristiwa paling pahit dalam sejarah Islam.

Karena itu, bergantinya tahun hijriah yang seringkali dijadikan momen untuk bergembira dan saling mengucapkan selamat, tidak akan ditemukan dilakukan oleh warga Iran. Rasa belasungkawa akan syahidnya Imam Husain As beserta keluarga dan sahabatnya yang terbantai di Karbala mereka tunjukkan bukan hanya dengan pakaian serba hitam yang mereka kenakan, namun juga pemasangan umbul-umbul bendera hitam, ornamen-ornamen yang dipasang di tepi-tepi jalan, masjid dan tempat-tempat umum yang berisi pesan duka Asyura, termasuk mencat mobil-mobil mereka dengan tulisan Husain, Zainab, Ali Asghar, Aba al-Fadhl dan nama tokoh-tokoh lainnya dalam peristiwa Karbala.





Secara resmi, warga Iran memperingati peristiwa Asyura selama sepuluh hari berturut-turut, dari tanggal 1 sampai 10 Muharram. Hari kesembilan dan hari kesepuluh dijadikan hari libur nasional. Selama kesepuluh hari tersebut, setiap sehabis shalat Isya berjama’ah, diadakan majelis-majelis duka. Ratusan warga berbondong-bondong memadati masjid-masjid dan Husainiyah tempat diadakannya majelis-majelis duka tersebut. Acara dibuka dengan tilawah al-Qur’an dan  dilanjutkan dengan ceramah agama yang berisi pesan dan hikmah dari kisah-kisah kepahlawanan Imam Husain As beserta keluarga dan sahabatnya di padang Karbala. Disaat Khatib menyampaikan ceramahnya, tidak jarang terdengar suara isak tangis dari para jama’ah. Peristiwa kematian Imam Husain As meski sudah berlalu 1400 tahun lalu, namun bagi mereka tampak seolah-olah baru terjadi kemarin sore. Setelah mendengarkan ceramah, lampu-lampu dipadamkan, dan hanya menyisakan sedikit cahaya. Dalam suasana nyaris gelap itu, seseorang tampil untuk membacakan maqtal atau syair-syair duka. Pada prosesi ini, para jama’ah dilibatkan. Kesemuanya berdiri dan mengiringi kidung duka yang dinyanyikan sembari menepuk-nepuk dada. Suasana haru semakin menyeruak setiap disebutkan nama al Husain. Diakhir acara, panitia akan membagikan kotak makanan dan disantap bersama. Majelis ini berlangsung selama sepuluh malam berturut-turut.


Dalam majelis ini tidak adegan melukai diri, tidak ada aksi memukul badan dengan benda tajam hingga berdarah-darah. Ulama-ulama Iran memberikan fatwa akan keharaman melukai diri apalagi sampai berdarah-darah dalam memperingati hari Asyura. Fatwa itupun menjadi hukum postif bagi kepolisian Iran untuk membubarkan dan menangkapi mereka yang melakukan aksi melukai diri dalam majelis Husaini. Sayang, karena perbuatan segelintir Syiah di Irak, Afghanistan dan Pakistan yang masih juga memperingati Asyura dengan tradisi melukai diri, Syiah pun diidentikkan dengan perbuatan irasional tersebut. Patut diketahui, kalau memang melukai diri dianggap ibadah yang afdhal dilakukan pada peringatan Asyura, maka yang paling pertama melakukannya adalah ulama-ulama dan kaum terpelajar dari kalangan Syiah, dan itu harusnya bermula dari Iran, sebagai sentral keilmuan penganut Syiah. Faktanya, tidak satupun ulama Syiah yang melakukannya, yang ada justru memfatwakan keharamannya. Dan kalau memang itu sudah menjadi bagian dari tradisi Syiah, maka tentu jumlah orang-orang Syiah yang melakukannya jauh lebih banyak dari yang tidak. Faktanya, yang melakukannya tidak seberapa, dan itu hanya ada diluar Iran, tidak di Iran.



Mengenang Ali Asghar

Pada hari Jum’at pagi, dari kesepuluh hari awal Muharram itu, diperingati secara khusus kesyahidan Ali Asghar, putra Imam Husain As yang masih berusia beberapa bulan namun turut menjadi korban kebengisan tentara-tentara Yazid. Dikisahkan, bayi Imam Husain As tersebut dalam kondisi kehausan, sebab sumber mata air berada dalam penguasaan tentara Yazid dan tidak mengizinkan kafilah Imam Husain untuk mengambil airnya barang setetes pun. Kasihan dengan bayinya yang merengek kehausan, Imam Husain As pun memeluk dan menggedongnya. Beliau menghadap pasukan Yazid untuk diizinkan mengambil air, setidaknya untuk menghilangkan dahaga bayinya tersebut, sembari memperlihatkan kondisi Ali Asghar yang dicekik kehausan. Bukannya iba, seorang tentara Yazid malah melezatkan anak panah yang tepat mengenai leher bayi Imam Husain As tersebut, yang kemudian mati seketika dipelukan ayahnya. 








Kejadian tragis ini secara khusus diperingati pada hari Jum’at pertama bulan Muharram. Ribuan ibu dengan bayi-bayinya yang berkostum pakaian Arab paduan warna hijau dan putih lengkap dengan surban dan ikat kepala yang bertuliskan Ali Asghar, memadati masjid-masjid dan tanah-tanah lapang. Ditempat itu mereka mendengarkan ceramah khusus mengenai kisah kesyahidan Ali Asghar dan betapa pedihnya hati Imam Husain As melihat kematian bayinya yang tragis di pelukan sendiri, justru oleh mereka yang mengaku sebagai muslim dan pengikut Nabi Muhammad Saw. Suasana haru dan emosional tidak terhindarkan ketika kisah yang menyayat hati itu kembali disuguhkan. Ibu-ibu tersebut menangis sambil mendekap bayi mereka masing-masing sembari membayangkan kesedihan dan kepiluan hati Imam Husain melihat bayinya tergeletak tanpa nyawa. Dalam acara ini tidak ada adegan orangtua mengiris bayinya dengan pedang hingga berdarah, hanya sekedar untuk merasakan kepedihan Imam Husain. Foto yang beredar di media sosial yang menggambarkan kepala seorang anak yang berdarah-darah karena dilukai oleh orangtuanya sendiri, kejadiannya bukan di Iran. Itu adalah kelakuan orang-orang yang ekstrim yang justru mendapat kecaman dari ulama Syiah sendiri, yang tidak bisa menjadi representatif semua Syiah pasti melakukan itu.  

Pada hari kesembilan Muharram -yang dikenal juga dengan sebutan Tasu’a Husaini- dan pada hari kesepuluh –dikenal dengan sebutan hari Asyura- karena menjadi hari libur nasional, jalan-jalan raya dipadati oleh ribuan warga dengan pakaian serba hitam yang berjalan kaki. Disepanjang jalan, terdapat posko-posko yang menyediakan minuman panas dan makanan ringan secara gratis. Satu-dua jam menjelang shalat dhuhur masjid-masjid dan juga kantor-kantor resmi ulama-ulama Marja dipadati lautan manusia. Ditempat-tempat itu mereka berkumpul untuk menumpahkan rasa haru dan kesedihan yang sama. 





Suara isak tangis yang tak tertahan terdengar dimana-mana disaat khatib menyampaikan detik demi detik proses terbantainya Imam Husain As di Karbala. Bagaimana saat dadanya yang telah penuh dengan sayatan pedang ditindih dan kemudian kepalanya dengan tebasan pedang dipisahkan dari tubuhnya. Tangisan mereka dengan tragedi memilukan yang menimpa cucu Nabi Muhammad Saw tersebut bukan untuk menyesal atas apa yg telah terjadi melainkan upaya merawat dan menjaga ingatan dan kenangan atas perjuangan dan pengorbanan keluarga Nabi dalam menjaga eksistensi agama ini. Bangsa kita juga punya tradisi yg sama dalam mengenang pengorbanan para pahlawan bangsa? ada upacara bendera, ada hening cipta, ada ziarah kemakam pahlawan, ada pembuatan film perang melawan penjajah, ada pementasan drama, ada pembacaan puisi dan seterusnya. Yang tentu tujuannya bukan untuk mengorek luka sejarah, bukan pula untuk menyimpan dendam, melainkan untuk menghidupkan semangat kepahlawanan, patriotisme dan pengorbanan para pejuang terdahulu supaya generasi sekarang juga punya smangat yang sama.



Bagi rakyat Iran, tangisan mengenang al Husain bukanlah tangisan cengeng. Melainkan tangisan yang justru membakar semangat perlawanan terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan sebagaimana yang diwariskan Imam Husain As melalui tragedi Karbala. Rakyat Iran menyodorkan bukti, bahwa bermula dari tangisan itulah, revolusi besar yang mengubah takdir Iran dengan menjungkalkan rezim Shah Pahlevi telah mereka rancang dan ledakkan. Imperium Persia yang berusia 2.500 tahun beralih menjadi Republik Islam, dimulai dari tangisan mengenang al Husain.

Ismail Amin, Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Tafsir Al-Qur’an Universitas Internasional al Mustafa Qom Republik Islam Iran


Kenalkah Kau dengan al Husain, Cucu Kesayangan Nabi?

Rabu, 14 Oktober 2015
Posted by ismailamin
Dia hanya berjarak setahun dengan abangnya, al Hasan. Sebagaimana abangnya, namanya juga adalah pemberian Allah Swt melalui malaikat Jibril As yang meminta Nabi Saw menyebutnya al Husain, yaitu Hasan kecil. Dihari ketujuh kelahirannya, sebagaimana juga abangnya, dia diaqiqah dengan sembelihan satu ekor kambing.
Para sahabat sang Kakek juga turut merasakan kebahagiaan akan kelahirannya. Dalam mazhab Syiah dan juga Maliki, aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya, masing-masing dengan sembelihan satu ekor kambing. Islam yang datang dengan doktrin laki-laki dan perempuan sama derajatnya, mustahil membeda-bedakan laki-laki dan perempuan justru dihari-hari awal kelahirannya. Suka cita dalam penyambutan kelahiran anak, sama, anak laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya. Islam datang justru hendak merombak tradisi yang membeda-bedakan anak laki-laki dengan perempuan.
Masa kecil al-Husain diliputi kebahagiaan dan keceriaan masa anak-anak. Dia tidak pernah terlihat berpisah dengan kakeknya. Sahabat-sahabat Nabi Saw ketika menceritakan tentang al Husain, mereka akan berkata, “Selalu saja kulihat al Husain itu duduk dipangkuan Nabi, sambil sesekali diciumi Nabi.” Bahkan ada salah seorang sahabat yang merasa risih, saking seringnya dia melihat Nabi menciumi al Husain.
“Ya Rasulullah, saya mempunyai 10 anak laki-laki dan tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium.”
“Kenapa?”

“Kami tidak mencium anak laki-laki.”
“Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, kalau Allah akan mencabut rasa sayang dari hatimu.”
Tidak hanya diwaktu senggang, Nabi selalu bersama al Husain. Bahkan diwaktu sedang memimpin jamaah shalat sekalipun. Al Husain dan abangnya berkejaran diantara kedua kaki Nabi yang sedang shalat. Ketika Nabi sujud, keduanya bergantian menunggangi pundak Nabi. Akibatnya, Nabi memperlama sujudnya. Sehabis shalat, para sahabat bertanya, apa gerangan yang terjadi mengapa sampai sujud Nabi sedemikian lama. Nabi menjawab, “Kedua cucuku ini menunggangi punggungku, dan kubiarkan keduanya menyelesaikan keinginannya.”
Salah seorang sahabat pernah mendapati Nabi sedang asyik bermain dengan kedua cucunya. Al Husain dan al Hasan naik dipunggung Nabi bersamaan. Sahabat itu turut tersenyum melihat tingkah keduanya, sambil berkata, “Amat beruntung kalian berdua, memiliki tunggangan yang paling baik.” Nabi berkata, “Dan keduanya adalah penunggang terbaik.”
Pernah Nabi sedang berkhutbah. Diatas mimbar beliau melihat al Husain dan abangnya berkejar-kejaran. Karena baju yang dipakai al Husain kepanjangan, ia menginjaknya sendiri, dan terjatuh. Nabi spontan melompat dari mimbar dan menggendong cucunya itu, kemudian melanjutkan khutbahnya kembali. Nabi tidak ingin al Husain terluka sedikitpun, apalagi sampai menangis. Menenangkan hati cucunya itu, lebih utama bagi Nabi dibanding khutbah yang disampaikannya.
Berkali-kali sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, kami melihat, begitu besar kecintaanmu pada al Husain.” “Iya, al Husain dari aku, dan aku dari al Husain. Mencintai aku siapa yang mencintainya, dan memusuhi aku siapa yang memusuhinya.” Mendengar sabda itu, sahabat-sahabat Nabipun berlomba-lomba menunjukkan kecintaan yang serupa kepada al Husain.
Setiap Nabi usai menyampaikan khutbah atau nasehat kepada sahabat-sahabatnya, al Husain dan al Hasan segera berlomba berlari kembali ke rumah. Keduanya adu cepat untuk menyampaikan apa yang dikatakan Nabi kepada ibunya, Fatimah az Zahra. Begitu Imam Ali datang dan hendak bercerita kepada istrinya tentang apa yang telah disampaikan Nabi tadi, Sayyidah Fatimah segera memotong, “Sudah saya tahu.”
Imam Ali hanya keheranan, “Kamu tahu dari mana?”. Sang Bunda tersenyum sambil menunjuk kedua anak laki-lakinya yang cekikan senang.
Pernah, ada seorang kakek tua sedang berwudhu, namun caranya salah. Al Husain dan al Hasan melihat kejadian itu. Al Husain segera berkata kepada abangnya, “Bang, yuk kita bertanding, siapa yang wudhunya paling benar.”
Al Hasan menyanggupi tantangan itu. “Tapi siapa yang menjadi jurinya?” Al Husain pun meminta kepada kakek yang hadir disitu.
“Kek, siap jadi juri ya..”

Sang kakek mengiyakan.
Keduanyapun melakukan wudhu dihadapan kakek itu. Dan begitu usai, kakek ditanya siapa yang wudhunya paling benar.
Sang kakek berujar, “Wudhu kalian berdua benar. Saya yang salah.”

Al Husain sukses memberitahu cara wudhu yang benar kepada si kakek, tanpa merasa digurui.
Al Husain tidak lama bersama Nabi. Diusianya baru menginjak 6 tahun, sang kakek meninggal dunia. Betapa sedihnya al Husain kecil. Terus terbayang masa kecil yang indah bersama sang kakek. Betapa kakeknya selalu hanya ingin membuatnya senang. Sedikit luka saja, sang kakek sudah sedemikian risaunya.
Tapi tahukah kau akhir hidup cucu yang begitu disayangi Nabi itu?. Tahukah kau bagaimana kisah selanjutnya dari penunggang Nabi itu? Tahukah kau apa yang terjadi dengan leher dan bibir al Husain yang sering dikecup oleh Nabi itu?
Ia mati dalam keadaan lehernya tersembelih, dan bibirnya ditusuk-tusuk pedang.
Ketika kepala al Husain yang telah terpisah dari tubuhnya dibawa kehadapan Yazid. Yazid memukul-mukul batok kepala itu dengan tongkat, dan mempermain-mainkan bibir di kepala itu.
Sahabat-sahabat Nabi yang telah tua renta histeris melihat kejadian itu.
“Hentikan wahai Yazid, aku melihat dengan mata kepala sendiri, bibir itu sering diciumi oleh Nabi.”
Kau mungkin tidak tahu banyak mengenai itu, sebab cerita yang kau dapati tentang al Husain, dia yang sedang tertawa senang sedang menunggangi Nabi, kakeknya.

Hanya itu… seolah-olah al Husain, hanyalah cucu Nabi, yang sepanjang usianya adalah cucu yang larut dalam kegembiraan masa kanak-kanak.
Mana masa muda al Husain, yang diminta ayahnya untuk melindungi khalifah Utsman dari pembunuhan? Mana masa muda al Husain yang ikut membela ayahnya dalam perang-perang melawan kaum pemberontak? dan mana masa akhir al Husain, yang syahid di Karbala menjaga nyala agama yang disiarkan kakeknya?

Nabi bersabda tentangnya, “Al Husain adalah pemimpin pemuda di surga…”
Kau tahu dimana kepalanya yang sempat dipermainkan itu dikubur?
Secuil itukah yang kau tentangnya?
10 hari pertama Muharram, berusahalah tahu banyak tentang, kau akan mengenal agama ini lebih dekat...
Qom, 1 Muharram 1437 H

Filosofi Haji dan Pesan Kemanusiaan

Senin, 21 September 2015
Posted by ismailamin
Tag :
Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar kata Ka’bah?. Bagi yang belum pernah melihat atau mendapatkan informasi tentang Ka’bah kecuali bahwa Ka’bah sebagai arah kaum muslimin menghadapkan wajahnya ketika berinteraksi ‘intim’ dengan Tuhannya, adalah wajar jika membayangkan Ka’bah adalah sebuah bangunan yang megah dan indah. Itupula yang saya bayangkan tentang Ka’bah di usia belum balighku dulu. Saya bayangkan Ka’bah berupa istana megah, sebuah karya arsitektur yang indah, dibangun dengan cita rasa estetika yang tinggi, penuh dengan ornamen-ornamen yang mahal, bisa jadi terbuat dari emas, berlian atau pecahan-pecahan intan permata, penuh dengan warna-warna yang menyejukkan mata. Pernah pula saya bayangkan dia berupa bangunan semacam menara yang menjulang tinggi dimana didalamnya terkubur seorang tokoh manusia yang penting, bisa seorang pahlawan, raja, imam, atau malah Nabi.

Tapi ternyata tidak! yang kita saksikan dari Ka’bah hanyalah bangunan kubus yang sama sekali tidak memiliki keindahan arsitektural, seni atau kualitas yang biasa kita saksikan pada bangunan-bangunan yang diklaim sebagai keajaiban dunia, tidak ada warna-warni sama sekali. Bangunan ini hanya terbuat dari batu-batu hitam keras yang tersusun dengan cara yang sederhana, dengan kapur putih sebagai penutup celah-celahnya. Dan di dalam bangunan persegi itu, pernah kubayangkan ada bongkahan sesuatu yang selama ini dikejar-kejar manusia sebut saja, emas, intan permata, atau mutiara manikam. Atau di dalamnya ada manusia tempat mencurahkan perhatian, perasaan, tempat meminta wejangan dan nasihat agar lurus dalam menjalani kehidupan. Sekali lagi semuanya itu terbantahkan, ternyata didalamnya tidak ada-apa, sama sekali kosong! Tidak ada sesuatupun juga. Bisa jadi ketika melihatnya timbul pertanyaan dan keraguan benarkah bangunan ini pusat agama, shalat, cinta, hidup dan kematian kita? Benarkah Kubus yang yang tanpa dekorasi ini adalah arah kaum muslimin menghadapkan wajahnya di dalam shalatnya, benarkah dia pusat eksistensi, keyakinan, cinta dan kehidupan manusia bahkan ke arah ini pula kaum muslimin yang mati dikuburkan? Apa yang dicari oleh mereka yang berseliweran disekelilingnya, yang seolah melupakan segala yang dimilikinya, ditempat itu mereka menumpahkan perasaan, tangis dan air mata, bersimpuh penuh pengharapan, merendahkan diri serendah-rendahnya, menciumnya dengan penuh perasaan cinta dan sedari sana timbul kerinduan mendalam untuk kembali ?.

Abrahah pun heran dengan Ka’bah ini, ia berusaha menyaingi, dengan membangun tempat peribadatan yang lebih megah dan terbuat dari ornament yang sangat mahal bahkan bagi peziarah ia janjikan hadiah yang banyak, tetap saja Ka’bah ramai dengan kerumunan orang. Kedengkiannya semakin besar, ia bermaksud meruntuhkan Ka’bah, dengan ribuan pasukan yang menunggang gajah ia menuju Makkah, kota tempat Ka’bah berdiri tegak. Ia dan pasukannya menyangka akan mendapatkan perlawanan hebat dari penduduk Makkah yang tidak ingin rumah ibadahnya dihancurkan. Setibanya disana, ia malah mendapatkan tontonan yang membingungkan, tidak ada satupun penduduk Makkah yang menjaga atau berusaha melindungi Kabah, semuanya menyelamatkan diri ke bukit-bukit. Bahkan Abdul Muthalib, pembesar kaum Qurays menghadap ke Abrahah hanya untuk mengambil unta-unta yang dirampas pasukan Abrahah. Tentang ini Abdul Muthalib, Kakek Rasulullah hanya menjawab singkat, “Unta-unta ini milik kami, karenanya kami harus mengambilnya kembali, sedangkan Ka’bah adalah rumah Allah, Dia sendirilah yang memberinya penjagaan”. Ya, Ka’bah, bukan milik siapa-siapa, ia milik Tuhan seutuhnya, tidak diberikan kesiapapun, tidak diamanahkan apalagi diwariskan.

Patut engkau ketahui, meskipun rumah Allah, Ka’bah tetap hanyalah bangunan. Hanyalah kumpulan batu gunung yang hitam pekat. Ka’bah bukanlah tujuan dari kedatanganmu. Kesederhanaan Ka’bah yang kamu lihat di hadapanmu mengingatkan akan tujuan perjalananmu. Ka’bah adalah penunjuk arah. Ada hal lain yang harus menjadi tujuan akhir perjalananmu. Gerakan abadi yang kamu lakukan adalah gerakan menuju Allah, bukan menuju Ka’bah. Kamu datang untuk memenuhi undangan Allah. Setiap orang diantara kalian harus mengenakan pakaian yang telah ditentukan, kamu tidak memiliki dirimu lagi, kamu harus meleburkan diri dan tidak boleh memasuki rumah suci ini jika engkau masih terikat dengan dirimu, masih memikirkan dirimu sendiri. Kesederhanaan Ka’bah menunjukkan betapa kemewahan dan kemegahan bukanlah tujuan hidupmu. Ka’bah adalah Baitullah, rumah Allah. Dibangun oleh Ibrahim atas perintah-Nya. Ketika kau menghadapnya sesungguhnya merupakan tamparan keras buatmu, buatmu yang membangun rumah dengan penuh ornamen mahal yang hanya akan membuatmu pongah. 

Haji, Menghampiri Allah

Kota Mekkah disebut juga “Bait-Atiq”. Atiq berarti bebas. Kota ini tidak dimiliki siapapun juga. Tak seorangpun berhak menguasainya. Kota ini milik Allah ‘sepenuhnya’. Dengan beberapa ketentuan seorang muslim ketika bepergian atau melakukan perjalanan jauh dari rumahnya boleh menyingkat shalat-shalatnya atau menggabungkannya. Tetapi di kota Mekkah, darimanapun engkau datang dan betapapun jauhnya perjalanan yang engkau tempuh, shalatmu harus sempurna dan tidak boleh disingkatkan. Sebab kedatanganmu karena memenuhi panggilan, kamu bukanlah tamu, Mekkah negerimu sendiri, kamu tidak sedang bepergian jauh, kamu melakukan perjalanan pulang ke negerimu. Kedatanganmu disambut layaknya seorang sahabat dan anggota keluarga Allah yang telah lama pergi, dan pulang kembali. Kembalilah engkau kepada-Nya, dengan penuh kecintaan dan kerinduan. 

Tidakkah engkau mendengar seruan Ibrahim : "Dan serulah manusia untuk melakukan Haji. Mereka akan datang kepadamu dengan bertelanjang kaki atau dengan menunggang unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (Qs. 22 : 27) "Dan kepunyaan Allah-lah Kerajaan langit dan bumi dan kepada Allahlah kembali semua makhluk." (Qs. 24 : 42) Engkau harus menghadap dan pulang kepadanya dengan penuh ketulusan hati, tidak dikotori oleh motif-motif lain. Ketulusan hati itu tampak jelas dalam ayat Al-Quran yang memerintahkanmu berhaji. ''Karena Allah SWT, wajib bagi manusia untuk menunaikan ibadah haji, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah.'' (QS Ali Imran: 97). ''Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah SWT.'' (QS Al-Baqarah: 196). 

Perintah haji dalam dua ayat di atas, ditekankan harus lillah, tulus karena Allah SWT. Redaksi demikian tidak ditemukan di ayat lain yang isinya perintah untuk beribadah, seperti shalat, zakat, dan puasa. Meskipun, pada dasarnya semua ibadah harus lillah, terlebih lagi haji yang menuntut perjuangan dan kerja keras, menguras apapun yang menjadi milikmu, lahir dan batin dalam waktu yang tidak sedikit. Ibadah haji mencerminkan kepulangan seorang manusia kepada Allah yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tak diserupai oleh sesuatu apapun. Pulang kepada Allah merupakan sebuah gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai dan fakta-fakta. 

Dengan melakukan perjalanan menuju keabadian ini manusia tidak akan “sampai” kepada Allah; Dia hanya memberikan petunjuk yang benar, tapi Dia bukan merupakan tujuan yang hendak dicapai. Menunaikan haji sama halnya menjumpai sahabat-terbaik yang telah menciptakan manusia sebaik-baik ciptaan dari makhluk lain. Allah sedang menantikan. Dengan demikian kamu pun harus mencoba untuk meninggalkan istana-istana kebesaran, gudang-gudang kekayaan dan kuil-kuil yang menyesatkan. Manusia – melalui ibadah haji, akan melepaskan diri dari perbuatan serigala (sebuah tindakan penindasan bagi orang-orang yang dipimpinnya).

Hijir Ismail

Di sebelah barat Ka’bah ada sebuah tembok rendah yang berbentuk setengah lingkaran dan menghadap ke Ka’bah. Bangunan ini disebut Hijir Ismail. Hijir bisa berarti pangkuan juga bisa diartikan pakaian wanita sebelah bawah. Tersebutlah dalam riwayat, Hajar adalah perempuan Ethopia yang miskin. Ia sahaya dari Sarah istri Ibrahim. Hajar dinikahi Ibrahim untuk memperoleh anak. Lahirlah Ismail. Kecemburuanlah yang membuat Sarah meminta Ibrahim untuk ‘mengusirnya’. Oleh Ibrahim, dibawalah Hajar dan Ismail, yang ketika itu masih bayi ke padang pasir yang luas, tidak terdapat apa-apa. 

Di atas pangkuan Hajarlah Ismail di besarkan. Hijir Ismail, adalah bangunan di samping Ka’bah, tempat Hajar membesarkan Ismail, dan di situ pula Hajar, ibunda Ismail dikuburkan. Dan Allah memerintahkanmu agar ketika melakukan thawaf juga mengelilingi Hijir Ismail dan tidak hanya mengelilingi Ka’bah saja, jika tidak demikian ibadah haji yang kamu lakukan tidak diterima Allah SWT. Subhanallah, kuburan seorang sahaya perempuan hitam Afrika merupakan bagian dari Ka’bah, dan hingga kiamat nanti manusia-manusia senantiasa akan berthawaf mengelilinginya. Betapa anehnya, kepada hambanya yang terhina, terlemah dan terusir di antara makhluk-makhluk-Nya, Allah memberikan tempat di sisiNya. Dia datang, memerintahkan kepada Ibrahim untuk dibuatkan rumah, dan meminta dibangunkan di sebelah rumah Hajar. Allah memilih menjadi tetangga seorang perempuan hitam yang terusir. Ali Shariati menuliskan : Di antara semua manusia; Dia memilih perempuan Di antara semua perempuan; Dia memilih seorang budak Di antara semua budak; seorang sahaya yang berkulit hitam

Ketika kau mengetahui bahwa sesungguhnya ritual-ritual haji yang kamu lakukan adalah untuk memperingati Hajar, seorang budak perempuan hitam yang dihinakan dan diremehkan, masihkah engkau merasa lebih tinggi dari manusia selainmu? Masih beranikah engkau sepulang dari ritual hajimu kau membanggakan diri dan acuh terhadap kehidupan mereka yang terpinggirkan secara sosial? Allah datang dan memilih bertetangga dengan seseorang yang senantiasa terhina, kalau kamu bisa jadi lain, kamu datang untuk menggusur mereka, karena bagimu mereka mengotori bangunanmu…

Wallahu ‘alam bisshawwab. 

[tulisan ini salah satu item yang termuat dalam buku "Dalam Dekapan Ridha Allah" terbitan Intizar Press, Makassar 2015]
Welcome to My Blog

Tentang Saya

Foto saya
Lahir di Makassar, 6 Maret 1983. Sekolah dari tingkat dasar sampai SMA di Bulukumba, 150 km dari Makassar. Tahun 2001 masuk Universitas Negeri Makassar jurusan Matematika. Sempat juga kuliah di Ma’had Al Birr Unismuh tahun 2005. Dan tahun 2007 meninggalkan tanah air untuk menimba ilmu agama di kota Qom, Republik Islam Iran. Sampai sekarang masih menetap sementara di Qom bersama istri dan dua orang anak, Hawra Miftahul Jannah dan Muhammad Husain Fadhlullah.

Promosi Karya

Promosi Karya
Dalam Dekapan Ridha Allah Makassar : Penerbit Intizar, cet I Mei 2015 324 (xxiv + 298) hlm; 12.5 x 19 cm Harga: Rp. 45.000, - "Ismail Amin itu anak muda yang sangat haus ilmu. Dia telah melakukan safar intelektual bahkan geografis untuk memuaskan dahaganya. Maka tak heran jika tulisan-tulisannya tidak biasa. Hati-hati, ia membongkar cara berpikir kita yang biasa. Tapi jangan khawatir, ia akan menawarkan cara berpikir yang sistematis. Dengan begitu, ia memudahkan kita membuat analisa dan kesimpulan. Coba buktikan saja sendiri." [Mustamin al-Mandary, Penikmat Buku. menerjemahkan Buku terjemahan Awsaf al-Asyraf karya Nasiruddin ath-Thusi, “Menyucikan Hati Menyempurnakan Jiwa” diterbitkan Pustaka Zahra tahun 2003]. Jika berminat bisa menghubungi via SMS/Line/WA: 085299633567 [Nandar]

Popular Post

Blogger templates

Pengikut

Pengunjung

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Ismail Amin -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -