Archive for Juli 2015

Pelajaran dari Nabi Luth As dan Kaum Sodom

Selasa, 14 Juli 2015
Posted by ismailamin
“Itu adalah sebahagian dan berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih terlihat bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah” (Q.S. Hud :100).

Jika membaca sejarah Anbiyah As dan kaumnya, maka yang paling tragis akhir hidupnya adalah kaum Sodom. Kemaksiatan yang mereka lakukan tidak pernah dilakukan oleh umat-umat sebelumnya, itu sebabnya azab yang menimpa juga sedemikian dasyhatnya. Dosa mereka adalah, yang laki-laki mendatangi [berhubungan badan dengan] laki-laki dan yang perempuan mendatangi perempuan, dalam bahasa sekarang kita menyebutnya, mereka melakukan praktik homo seksual dan lesbian.

Allah Swt telah menciptakan manusia dari dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, yang kemudian dari keduanya [setelah melakukan interaksi seksual yang paling intim] lahirlah keturunan-keturunannya. Jadi seks bukan hanya melulu menyangkut kenikmatan dan kesenangan syahwat saja, melainkan memiliki tujuan yang luhur, yaitu melanjutkan generasi manusia. Karena tujuan yang luhur itu pula, interaksi seksual harus sebelumnya diikat dalam ikatan pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Seks dalam agama Islam adalah sesuatu yang mulia, agung dan suci sehingga tidak bisa dilakukan serampangan dan tanpa aturan.

Kaum Sodom menerjang batasan-batasan itu. Mereka bukan hanya melakukan hubungan seksual diluar ikatan pernikahan namun juga melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis, sebuah perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh umat-umat sebelum mereka. Nabi Luth As sampai harus diutus untuk mengingatkan mereka, agar meninggalkan perbuatan keji itu.  Bahkan dari salah satu fragmen perjalanan dakwahnya, Nabi Luth As sampai harus terpaksa menawarkan putri-putrinya agar dinikahi, daripada kalangan laki-laki kaum Sodom tetap bergelimang dosa besar tersebut [baca Qs. al-HIjr: 71]. Menawarkan putrinya untuk dinikahi adalah usaha terakhir Nabi Luth As untuk mengembalikan kaumnya pada fitrah. Semua usaha yang mungkin telah ia jalankan. Ia tuntaskan dakwahnya dengan hendak mengorbankan putrinya [yang tentu perempuan baik-baik] dan perasaannya sebagai seorang ayah yang begitu menyayangi putrinya, asal kaumnya bisa kembali ke jalan yang benar.

Sayang, tawaran itupun ditampik. Kaum Sodom tetap cenderung pada kesenangan yang diharamkan, tetap cenderung pada sesama jenisnya. Agar penyimpangan mereka tidak menyebar ke kaum yang lainnya, maupun generasi setelahnya, maka satu-satunya jalan, adalah Kaum Sodom harus dihabisi sampai tak bersisa. Tetap pada kedurhakaan adalah pilihan mereka sendiri, setelah sekian lama Nabi Luth As mendakwahi mereka. Bahkan balasan yang didapat Nabi Luth As adalah cacian, permusuhan dan ancaman pengusiran. Iapun disebut sok suci karena menentang apa yang Kaum Sodom nikmati.

Silahkan baca kisahnya dalam surah Huud ayat 77 sampai 83. Sangat dramatis, ketika malaikat meminta Nabi Luth meninggalkan kota lewat tengah malam, karena subuh harinya, kota itu akan dihancur leburkan. Allah Swt memilih menurunkan azabnya di waktu subuh, karena saat itu semua penduduk kota dalam keadaan lalai, yaitu masih dalam keadaan tertidur, sehingga tidak satupun dari mereka yang bisa sempat untuk menyelamatkan diri. Karena memang niatnya turun azab itu, agar mereka semua musnah tak bersisa, terkubur bersama dosa-dosa mereka.

Nabi Luth As beserta keluarga dan pengikutnya yang tidak seberapa bergegas meninggalkan kota. Kecuali istrinya, karena memang memilih tinggal. Tepat diwaktu subuh, azab Allah Swt pun datang dengan azab yang tidak pernah menimpa kaum sebelum mereka, tidak juga kaum setelahnya. Kota Sodom dibalikkan, yang diatas ke bawah, dan tidak cukup dengan itu. Kota itu juga diterjang dengan batu yang terbakar dengan bertubi-tubi dari langit.
Tamatlah kisah kaum Sodom. Hanya menyisakan pelajaran, betapa syahwat yang diperturutkan tanpa mengindahkan rambu-rambu Ilahi hanya akan melahirkan kedurhakaan dan pembangkangan.

Saking kejinya perilaku homo seksual dan lesbian, Allah Swt sampai harus mengirimkan azab yang sedemikian dasyhat. Fir’aun yang bahkan mengaku tuhan dan telah melakukan kerusakan besar di muka bumi dengan pembunuhan dan kezaliman, ‘hanya’ dimusnahkan melalui proses tenggelam di laut merah, tidak sampai harus merasakan terjangan batu api yang bertubi-tubi dari langit, demikian pula dengan kaum Nabi Nuh As. Abrahah dan pasukannya, yang hendak menyerang Ka’bah dan meratakannya dengan tanah, dimusnahkan ‘hanya’ dengan lontaran kerikil-kerikil yang merusak tubuh mereka, tidak sampai harus merasakan dasyhatnya gempa dan bagaimana bumi itu di balik.

Istri Nabi Luth As, bukanlah pelaku dan bagian dari Kaum Sodom yang berbuat keji itu, namun ia tidak menunjukkan kebencian dan penolakan terhadap kelakuan Kaum Sodom yang menyimpang. Bahkan, meski azab sudah didepan mata, ia tetap memilih tinggal, untuk menunjukkan konsistensinya membela hak Kaum Sodom untuk menuntaskan naluriah seksualnya pada sejenisnya. Kalau sekiranya, ia ada sekarang, mungkin termasuk aktivis yang mendukung legalisasi pernikahan antar sejenis, meski tidak termasuk yang mempraktikkannya. Namun, di sisi Allah Swt, sekedar mendukung pun sudah dimasukkan dalam golongan yang berbuat keji itu, sehingga istri Nabi Luth As termasuk yang merasakan pedih dan dasyhatnya azab Allah Swt.

Sayang, termaktubnya kisah dimusnahkannya kaum Sodom yang durhaka tanpa sisa didalam kitab-kitab suci agama Samawi sebagai pelajaran, dengan maksud tidak ada lagi generasi setelahnya yang melakukan hal keji yang serupa, oleh sebagian orang menjadi tidak ubahnya cerita dongeng pengantar tidur. Meski mengimani kisah tersebut, atas nama pembelaan terhadap HAM mereka terang-terangan memberikan dukungan terhadap legalisasi pernikahan sejenis.

Mari melakukan sebagaimana yang dilakukan Nabi Luth As atas mereka, yaitu meningatkan, mendakwahi, meluruskan, mencegah dan menyelamatkan mereka yang memiliki kecenderungan seksual terhadap sesama jenis dan bagi yang telah terjebak didalamnya yang dilakukan adalah menyembuhkannya, bukan membiarkannya. Mendukung legalisasi pernikahan sejenis itu tidak ubahnya mendorong mereka untuk jatuh lebih dalam pada jurang kesalahan. Membiarkan orang lain tetap pada penyimpangannya, bukanlah pengejewantahan dari cinta melainkan ketidakpedulian.

Sebaliknya pula, sebelum melakukan serangan verbal yang penuh kebencian, mengumpat dan memaki para pelaku homoseksual maupun yang mendukungnya, dan melecehkan mereka dengan sebutan-sebutan yang keji harusnya bertanya, apa usaha yang telah dilakukan untuk menyelamatkan dan meluruskan mereka telah maksimal?. Ataukah umpatan itu menunjukkan ketidakmampuan meneladani Nabi yang mendakwahi mereka sampai puluhan tahun lamanya?.

Ketika membaca ayat ini, saya merasakan ada kepedihan dan amarah yang tertahan didalamnya ketika terlontar dari lisan suci Nabi Luth As, “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah … Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" [Qs. Huud: 78]. Tentu sangat berat mengucapkan itu. Tapi tidak ada lagi jalan lain bagi Nabi Luth As kala itu. Itu adalah upayanya yang paling penghabisan, menawarkan putrinya untuk dinikahi  laki-laki keji agar mau meninggalkan perbuatan keji itu. 

Mari bertanya, apa yang telah kita lakukan untuk saudara kita, yang terjebak pada dosa besar ini?. Apa pengorbananmu untuk mereka sebelum kau menjatuhkan vonis ancaman mati?. Perlu diketahui, tidak sedikit dari mereka yang terjebak pada ‘kenikmatan’ itu bukan karena keinginannya dari awal, tapi juga menjadi korban pelecehan seksual di masa lalunya.

Sama dengan jasad Fir’aun yang dibiarkan utuh oleh Allah Swt, sejumlah jasad dari penduduk kota Pompeii [yang juga melakukan penyimpangan seksual sebagaimana Kaum Sodom] pun tetap awet sampai saat ini, untuk menjadi pelajaran bagi umat-umat setelahnya.

Tidak jugakah kita mau belajar?.

Ismail Amin, sementara menetap di Qom Iran
Hari Jum’at dalam pandangan umat Islam memiliki keistimewaan dan keutamaan yang besar. Ia disebut Nabi Muhammad dalam haditsnya sebagai hari raya, sehingga umat Islam disunnahkan untuk mandi di dalamnya. Dari Abu Lubabah bin Ibnu Mundzir ra berkata, Rasulullah Saw berkata, “Hari jum’at adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah, hari jum’at ini lebih mulia dari hari raya Idhul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah, pada hari jum’at terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada hari jum’at juga Adam dimatikan, di hari jum’at terdapat waktu yang mana jika seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang haram, dan di hari jum’at pula akan terjadi kiamat, tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit kecuali dia dikasihi pada hari jum’at.” (HR. Ahmad). Pada hadits lain disebutkan, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Jum’at adalah penghulu para hari, Allah Swt menurunkan kebaikan pada hari itu dan mengampuni dosa-dosa, meninggikan derajat kaum Mukminin dan mengabulkan doa-doa dan pengharapan.” (Al-Kafi, jld. 3. hlm. 414)
Pada hari Jum’at diwajibkan bagi kaum muslimin khususnya laki-laki untuk menunaikan shalat Jum’at secara berjamaah di masjid-masjid. Pahala kebaikan dilipat gandakan pada hari ini. Bersedekah di hari Jum’at lebih baik dibandingkan bersedekah di hari lain. Bahkan meninggal dunia di hari Jum’at merupakan salah satu tanda dari khusnul khatimah. Dengan segala keutamaan dan keistimewaan yang dimilikinya, wajar jika sejumlah negara muslim, khususnya di Timur Tengah, menetapkan hari Jum’at sebagai hari libur, untuk memudahkan kaum muslimin meraup pahala sebanyak-banyaknya di dalamnya, dan sebagai hari raya, kaum muslimin bisa saling menjenguk dan bersilaturahmi di hari itu.
Kalau hari Jum’at diantara hari-hari lainnya dipilih Allah Swt sebagai sebaik-baiknya hari, maka masjid ditetapkan Allah Swt sebagai tempat yang paling dicintai-Nya. Rasulullah Saw bersabda, “Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim). Masjid dalam pandangan umat Islam diyakini sebagai rumah Tuhan, dan memang di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa masjid-masjid adalah kepunyaan Allah sebagaimana yang termaktub dalam surah al-Jin ayat 18. Masjid tempat diselenggarakannya shalat berjamaah, zikrullah dan tilawah al-Qur’an, tempat para ulama dan dai menerangkan Islam dan membimbing ummat. Memakmurkan masjid disebut dalam Al-Qur’an sebagai tanda orang-orang yang beriman dan yang mendapatkan petunjuk. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Jika kamu melihat orang rajin mendatangi masjid, maka persaksikanlah ia sebagai orang yang beriman.” (HR. Ahmad). Dalam haditsnya yang lain, Nabi Saw bersabda,” … dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka melainkan akan turun ketentraman kepada mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, para malaikat menaungi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat di sisi-Nya. ” (HR. Muslim)
Dari catatan di atas, dengan terhimpunnya keutamaan-keutamaan antara shalat Jum’at dengan masjid, itu sebabnya shalat Jum’at menjadi sangat istimewa dalam pandangan umat Islam di seluruh dunia. Namun tidak demikian bagi ISIS.
Setidaknya dalam empat bulan terakhir, terjadi empat kasus peledakan masjid di Yaman, Arab Saudi dan Kuwait yang didalangi oleh ISIS. Yang menjadi sasaran adalah masjid-masjid yang jamaahnya shalatnya mayoritas dari kalangan muslim Syiah. Di Sanaa ibu kota Yaman, pada Jum’at (20/3) terjadi dua kasus peledakan masjid secara beruntun. Total merenggut korban jiwa 142 orang dari dua ledakan bom di masjid Badar di Sanaa Selatan dan masjid Al-Hashus di Sanaa utara. Bom tersebut mengincar Syiah Houthi menyusul keberhasilan Syiah Houthi mengambil kendali atas Yaman yang ditinggal lari Mansour Hadi ke Arab Saudi. ISIS mengaku bertanggungjawab atas aksi bom bunuh diri tersebut, dan menyebut apa yang mereka lakukan, baru ujung gunung es saja.
Kasus yang sama menimpa dua masjid Syiah di Arab Saudi. Dari kota Qatif  Jum’at (22/5) terjadi aksi bom bunuh diri di masjid Imam Ali As yang dilaporkan 21 orang meninggal dunia. Pelaku pengeboman menjalankan aksinya ketika jamaah sementara bersia-siap menunaikan shalat Jum’at. Satu pekan setelahnya, Jum’at (23/5) masjid Imam Husain As di kota Dammam, ibu kota provinsi Syarqi Arab Saudi mendapat giliran menjadi sasaran aksi bom bunuh diri. Berkat kejelian pemuda penjaga masjid, korban dari ledakan bom bisa diminimalisir dengan mencegah pelaku yang menyamar dengan menggunakan busana muslimah untuk memasuki masjid. Bahkan seseorang dari mereka memeluk pelaku sesaat sebelum meledakkan diri untuk meminimalisir efek ledakan. Pada tragedi ini, empat pemuda Syiah menjadi korbannya. Bom meledak disaat jamaah masjid tengah mendengarkan khutbah Jum’at. Tidak juga berakhir, Jum’at (26/6) di awal pekan kedua Ramadhan, masjid Imam Shadiq As di Kuwait meledak oleh aksi bom bunuh diri disaat jamaah muslim Syiah sedang bersujud dalam shalatnya. Ledakan tersebut merenggut korban jiwa puluhan orang dan ratusan lainnya luka-luka.
ISIS dalam pernyataan resminya mengakui bertanggungjawab atas semua rangkaian aksi peledakan bom tersebut yang menyasar kelompok Islam Syiah, di masjid, pada hari Jum’at dan disaat mereka sedang menunaikan shalat. Dalam pandangan ISIS, Syiah bukan hanya kelompok yang sesat namun juga kafir sehingga layak untuk dibasmi, dibantai dan dibom meskipun didalam masjid dan sembari sedang shalat sekalipun. Di Indonesia tidak sedikit kelompok Islam yang memiliki pandangan yang sama dengan ISIS dalam menilai Syiah. Tidak hanya itu, untuk membuktikan bahwa Syiah itu kafir mereka menyebarkan isu bahwa Syiah itu tidak shalat Jum’at. Namun ternyata yang dibom oleh ISIS adalah jamaah Syiah yang mendirikan shalat Jum’at. Kita perlu bertanya, dari mana mereka mempelajari Islam?. Disaat umat Islam menjadikan hari Jum’at sebagai hari raya, hari menjalin silaturahmi dan berbagi kebahagiaan, mereka malah menjadikan Jum’at sebagai hari teror dan menebar kebencian. Masjid yang merupakan rumah Tuhan di mata ISIS justru menjadi rumah jagal, tempat mereka menumpahkan darah orang-orang yang sedang sujud di hadapan Allah Swt. Dan Ramadhan, bulan suci bagi umat Islam, yang didalamnya diharamkan untuk berperang dan menumpahkan darah, justru bagi ISIS menjadi bulan pembantaian atas nama membela kesucian agama.
Semua ulama mufassir baik dari kalangan Sunni maupun Syiah menjadikan ayat ini, "...Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.” (Qs. al-Hajj: 40) sebagai dalil tegas, syariat Islam melindungi tempat ibadah dan haram merusaknya, terlebih lagi di bulan suci Ramadhan.
Wallahu al-Musta’an
Ismail Amin, Mahasiswa Universitas Internasional al Mostafa Qom Republik Islam Iran  
Ramadhan dalam keyakinan setiap muslim, adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Malaikat Jibril As menurunkan Al-Qur’an yang berisi firman-firman Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw dalam bulan Ramadhan, tepatnya pada malam a-Qadr, malam yang kemuliaannya melebihi seribu bulan. Membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan, jauh lebih besar pahalanya dibanding membacanya di bulan yang lain. Oleh karena itu, umat muslim diseluruh dunia, menunjukkan kecintaannya yang berlipat ganda pada Al-Qur’an di bulan ini, dengan berusaha mengkhatamkannya berkali-kali, tidak terkecuali masyarakat muslim Iran.
Masyarakat muslim Iran sangat terkenal dengan kecintaannya terhadap Al-Qur’an. Kecintaan tersebut tidak hanya ditampakkan dengan keindahan dan kemerduan suara saat membacanya, namun juga ketika menghafalkannya, ketika mengkaji dan menafsirkannya serta ketika menuangkannya di atas kanvas dalam bentuk lukisan kaligrafi ayat yang eksotis. Mushaf Al-Qur’anpun dicetak seindah mungkin dengan tulisan khat khas Persia. Tahun 2015 ini, Qari Iran Hasan Danesh berhasil meraih juara pertama pada MTQ Internasional ke-32 yang terselenggara pada bulan Mei di Tehran dan qari Iran lainnya Muhsin Haji Hassani Kargar juga meraih prestasi terbaik sebulan setelahnya di ajang MTQ Internasional ke-57 yang terselenggara di Malaysia. 
Ulama-ulama Iran dikenal memberi sumbangsih besar dalam dunia pengkajian dan penafsiran Al-Qur’an. Dari Iran dikenal kitab tafsir Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an, yang ditulis oleh Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathabai dalam bahasa Arab. Kitab yang terdiri dari 20 jilid tersebut selesai ditulis pada tanggal 23 Ramadhan 1392 H (bertepatan dengan tahun 1971 M). Kitab ini merupakan kitab tafsir paling fenomenal yang ditulis diabad ini. Dikaji dan dipelajari di universitas-universitas Islam di seluruh dunia, termasuk dalam pengkajian studi Islam di Barat. Versi terjemahan dalam bahasa Persia terdiri dari 40 jilid sementara terjemahan dalam bahasa Indonesia masih dalam proses pengerjaan dan saat ini baru sampai jilid ke tujuh.
Ulama Iran lainnya tidak ketinggalan, Ayatullah Makarim Shirazi menulis kitab Tafsir al-Amtsal yang diselesaikannya dalam 15 tahun. Aslinya kitab ini berbahasa Persia dengan judul tafsir Nemuneh terdiri dari 27 jilid, terjemahan bahasa Arabnya dicetak dalam 15 jilid. Ayatullah Jawadi Amuli menghasilkan karya Tafsir  Tasnim ditulis dalam bahasa Persia, sampai saat ini sudah terdiri dari 35 jilid dan belum tuntas menyelesaikan tafsiran seluruh Al-Qur’an. Jika penulisannya selesai, kitab tafsir ini akan menjadi kitab tafsir paling tebal diantara kitab-kitab tafsir yang pernah ada.
Iran tidak hanya dikenal dari sisi pengkajian dan penafsiran Al-Qur’an yang memberi sumbangsih besar dalam dunia intelektual Islam, namun juga dikenal dengan masyarakatnya yang gemar membaca dan menghafal Al-Qur’an dalam berbagai tingkatan usia. Masih melekat dalam ingatan masyarakat dunia mengenai bocah cilik yang menghafal Al-Qur’an sejak usia 5 tahun, namanya  Sayyid Muhammad Husain Thabathabai (sama persis dengan nama penulis kitab Tafsir al Mizan). Tidak hanya hafal Al-Qur’an 30 juz secara sempurna namun juga memahami tafsir dari setiap ayatnya. Kecerdasan Qur’ani yang dimiliki itulah, yang membuatnya meraih gelar doktor honoris causa dalam bidang “Science of the Retention of The Holy Quran.“dari Hijaz College Islamic University di Inggris tahun 2005. Biografinya ditulis oleh Dina Sulaeman dalam bukunya “Doktor Cilik Sang Mukjizat Abad 20” dengan sub judul “Hafal dan Paham Al-Qur’an di Usia 7 Tahun”.
Ia tidak sendiri, setelahnya hafiz-hafiz cilik tumbuh bak cendawan di musim hujan. Saat ini disebutkan ribuan penghafal Al-Qur’an di Iran yang dimulai dari usia balita. 3 diantaranya dirangkum biografinya kembali oleh Dina Sulaeman dalam buku series selanjutnya, “Bintang-bintang Penerus Doktor Cilik” terbit tahun 2011 oleh penerbit Iman. Pada bab ketiga dari buku tersebut, memuat wawancara saya dengan Doktor Cilik yang kini telah dewasa beserta wawancara dengan tiga hafiz cilik asal Iran lainnya, Al Amini, Sayid Muhammad Husain Husaini dan Mujtaba Karsenash. Dari wawancara dengan keempat hafiz Al-Qur’an termasuk wawancara dengan ibunya, terungkap bahwa sejak masih dalam kandungan, mereka telah akrab dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Begitu lahir dan masih dalam ayunan merekapun telah dibiasakan dalam lingkungan keluarga yang begitu besar kecintaannya terhadap Al-Qur’an.
Ramadhan bagi masyarakat muslim Iran merupakan bulan menyemai cinta terhadap Al-Qur’an, khususnya warga Qom. Di Haram Sayidah Maksumah di jantung kota suci Qom, setiap harinya selama bulan Ramadhan, selepas shalat ashar diadakan program membaca Al-Qur’an satu juz perharinya. Dibimbing oleh qari-qari terkenal Iran dan disiarkan secara live melalui televisi. Masjid-masjid lainnya pun melakukan program serupa. Di masjid-masjid kampus, diadakan kelas Tafsir yang diasuh langsung oleh ahli-ahli tafsir Iran. Diantaranya Ayatullah Jawadi Amuli, Ayatullah Makarim Shirazi dan Ayatullah Ja’far Subhani, yang dihadiri ribuan jamaah setiap harinya.
Pada malam 23 Ramadhan, yang dalam keyakinan muslim Iran sebagai jatuhnya malam Lailatul Qadr, yaitu malam diturunkannya Al-Qur’an, mereka memenuhi masjid-masjid dan tanah lapang untuk membaca Al-Qur’an semalam suntuk. Dan dipuncak acara, mereka mengadakan doa bersama sembari meletakkan mushaf Al-Qur’an diatas kepala mereka, sebagai simbol ketundukan mereka akan titah Al-Qur’an dan ikrar Al-Qur’an akan menjadi junjungan dan pedoman mereka dalam menjalani kehidupan.
Secara umum, masyarakat Iran tidak hanya akrab dengan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan saja. Menjelang tahun baru, menjadi tradisi bagi masyarakat Iran untuk membeli mushaf Al-Qur’an yang baru dengan cetakan yang indah. Detik-detik pergantian tahun, semua anggota keluarga akan berkumpul dihadapan meja yang dipenuhi pernak-pernik khas tahun baru. Yang tertua dari mereka bertugas membaca doa akhir tahun, dan begitu tahun berganti, mereka mengawalinya dengan membaca beberapa suci ayat suci dari mushaf Al-Qur’an yang baru mereka beli. Demikian pula dalam mengawali tahun ajaran baru. Siswa-siswa sekolah berbaris antri di depan pintu gerbang sekolah, yang kemudian memasuki gerbang dengan sebelumnya mengecup mushaf Al-Qur’an yang dipegang salah seorang guru.
Kecintaan terhadap Al-Qur’an yang sedemikian besar inilah, yang membuat Iran menjadi negara yang disegani musuh-musuh Islam. Musuh-musuh Islam selalu mempropagandakan bahwa mengakrabi Al-Qur’an adalah simbol kemunduran, masyarakat Iran mempertontonkan realitas yang sebaliknya. Iran menjadi negara modern yang maju, karena merealisasikan ajaran-ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari mereka. Semoga kita juga.
Ismail Amin, sementara menetap di Qom-Iran
[Tulisan ini ditulis khusus untuk Majalah Itrah edisi Juli 2015]
Abu Husein At-Thuwailibi  [untuk selanjutnya saya singkat AHAT]. Siapa dia? saya pertama kali tahu orang ini dari statusnya yang dishare Facebooker kawakan JONRU [meski kemudian Jonru menghapusnya karena alasan isinya tidak jelas valid tidaknya] tanggal 7 Juli 2015. Postingan Jonru itu saya baca, setelah mendapatkan linknya dari seorang teman yang mengirimnya melalui pesan di inbox saya.

Isi statusnya berisi berita mengenai diculik dan dianiayanya Ali Syaefurrahman [selanjutnya saya singkat AS]. Ini rangkaian isinya:



Status diatas yang juga dimuat oleh PKS Piyungan adalah sumber pertama dari berita mengenai kasus ini yang kemudian, menyebar dimedia sosial dan dimuat disejumlah media anti Syiah. Meski sebenarnya itu adalah kasus kriminal yang merupakan tugas pihak kepolisian untuk mengusut dan menangkap pelaku, namun yang tersebar di medsos adalah ajakan perang untuk membasmi Syiah. Dengan yel-yel yang menyeramkan, Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa, basmi syiah, bakar, Syiah halal darahnya, bunuh dan lain-lain.




Berita tersebut tidak luput dari sejumlah keganjilan. Diantaranya, antara keterangan yang ditulis AHAT deengan yang ditulis media, ada sedikit perbedaan, seperti yang ditulis oleh Islam Pos misalnya.

Dimedia tersebut, AS ditulis, bukan dibuang tapi meloloskan diri.


Disini disebutkan, AS ditolong oleh pengendara motor menuju masjid at Tin, namun oleh keterangan Farid Okbah dari Video yang dipublish di Youtube, AS lari sendiri ke masjid at Tin dalam kondisi lemah, kemudian meminta bantuan.



Keganjilan dari cerita ini, dari semua keterangan yang dihimpun mengenai kondisi AS, disebutkan, dalam keadaan kritis, tidak diberi makan dan minum selama dua hari, dipukul di ulu hati berkali-kali sampai muntah darah, disuntik cairan mematikan sampai keluar darah dari telinga dan mulut, bahkan ada yang menyebutkan tubuhnya penuh luka, meskipun dari fotonya tidak tampak luka sedikitpun.



Dalam kondisi yang digambarkan sedemikian parah dan kritis itu, AS bisa menyikut yang menjaganya kemudian lompat dari mobil dan melarikan diri?. Sekuat itukah fisik AS yang sebelumnya tidak makan dan minum selama dua hari?.



Kalau kita mau sedikit jeli dan melakukan analisa, maka semestinya kita mengajukan pertanyaan, mengapa si penculik tidak mengejar AS?.

Disebutkan mobil melambat di wilayah taman mini. Penyebab melambatnya apa? karena kemacetan? kalau macet berarti suasanya ramai. Semestinya ketika berhasil melompat dari mobil, AS berteriak minta tolong, sehingga selain dia bisa diselamatkan dan ditolong, penculiknya juga bisa ditangkap oleh warga. Sehingga kasus ini bisa selesai di hari pertama.

Tapi yang dilakukan AS adalah lari, dan minta tolong diantarkan oleh pengendara motor di depan Tamini Square. Mengapa hanya minta diantar ke masjid at Tin? mengapa tidak sekalian meminta kepada pengendara motor lainnya untuk mengejar mobil sipenculik, minimal mencatat nomor polisinya?. Kalau ditempat itu dalam kondisi sepi, sehingga teriak minta tolongpun tidak ada yang dengar, mengapa si penculik tidak mengejar dan menangkap si AS lagi?. Terlebih lagi dari keterangan Farid Okbah, yang menjaga AS ada 6 orang. Dijaga oleh 6 orang, tapi kemudian dibiarkan lolos?.

Cerita yang tidak logis. Sumbernya hanya dari AS sendiri. Tidak ada saksi mata, dan tidak ada yang diminntai keterangan lain selain AS sendiri. Tidak dari pengendara motor yang menolong AS, tidak juga dari pengurus masjid at Tin, tempat AS terkapar dan minta tolong. Tidak juga dari perawat dan dokter yang memberikan keterangan medis mengenai kondisi AS, dan tidak ada juga keterangan dari pihak kepolisian.

Saya kemudian mencari tahu mengenai si AS. Dari pesan melalui WA, seorang ikhwan menyampaikan informasi mengenai AS yang dikenalinya. AS tiba-tiba menjadi terkenal ketika fotonya tersebar melalui Medsos.

AS dari pesan itu disebut penipu. Bukan dari mahasiswa Qom, bahkan tidak pernah ke Iran. Dia telah melakukan penipuan di komunitas NU dan Syiah. Ini diantara mereka yang memberi kesaksian.





Dari keterangan2 itupun, saya membuat status di Facebook.



Status itupun menyebar secara cepat. Dan sampai ditangan AHAT [mungkin juga Jonru yang kemudian menghapus postingannya mengenai kasus ini, karena tidak mau kembali melakukan hal serupa, menjadi penyebar berita HOAX, sebagaimana dia berkali2 telah tertangkap basah]
Tidak lama. Saya mendapat pesan inbox dari AHAT, yang meminta klarifikasi dari saya. Terlebih lagi dari status terbarunya kala itu, katanya sudah terkumpul 65 juta dari usahanya menggalang dana dari netizen.

Ini lengkapnya, dialog kami di inbox Fesbuk saya.







Sebagian dari percakapan itu saya SS, dan posting di Facebook.


Dan seketika menjadi heboh. Sebagian menyebut SS itu bikinan saya sendiri, ada yang menyebut itu dialog dari dua akun kloningan, ada yang menyebut akun AHAT lagi di hack. Terlebih lagi, AHAT tidak juga menghapus postingannya yang kontroversial itu, meskipun dia sudah minta maaf. Sebagian besar memilih percaya dengan postingan saya itu, dan membantu menetralisir keadaan dengan menshare info tandingan.
Oleh sejumlah teman, saya diminta menanyakan ke AHAT mengapa tidak juga menghapus postingannya. Sayapun kemudian menanyakannya, keesokan harinya.

Ini dialog saya.



AHAT mengaku, bukan dia yang menulis pernyataan maaf itu. Dia kemudian memosting pernyataan klarifikasi di akunnya, dan berbalik memfitnah, bahwa saya berdusta besar, dan tidak layak dipercaya, karena saya orang kafir, sementara dia ataupun AS muslim, sehingga layak untuk dipercaya. Klarifikasinya itu juga diposting oleh JONRU. Dengan adanya klarifikasi yang ditelan mentah-mentah itu saya pun di bully, difitnah dan dilecehkan dengan kalimat-kalimat yang sangat kasar.



AHAT dalam klarifikasi ngelesnya, mengajukan dua opsi, obrolan itu bikinan, atau akunnya kena hack.

Saya memberikan bantahan dari alasannya itu.



Ini sejumlah obrolah yang membingungkan dari AHAT mengenai akunnya yang katanya pernah dihack sampai hampir 40 kali.

Mengaku FPnya bukan dia yang bikin, tapi dia yang menjadi admin dan mengendalikannya.


Mengaku akunnya diblokir, tapi masih bisa komentar dan memosting status.


Berharap FPnya bisa tetap bertahan meski akunnya di hack.



Tampak dari komentar2 dan pernyataan2 AHAT, dia itu gaptek. Tapi sayangnya, dia menyangka semua orang gaptek seperti dia. Tapi herannya, pengikutnya menerima saja yang dikatakannya. Akun saya pernah dihack, dan tidak mudah untuk mengambil alih kembali. Sementara AHAT mengaku, akunnya dihack hampir sampai 40 kali, dan ia sedemikian mudahnya menguasai kembali akunnya. 

Akun AHAT sempat menghilang, yang diakuinya karena diblokir Facebook, yang dengan sepihak dia menuduh Syiah sebagai pelakunya. Padahal ‘musuh’nya bukan hanya Syiah. Dia pernah bermasalah dengan sejumlah orang, termasuk dengan tokoh NU. Tapi kebenciannya terhadap Syiah yang mendarah daging membuatnya tidak lagi bisa berbuat adil. Segala sesuatu yang tidak mengenakkan yang menimpanya, semua ditimpakan kepada Syiah sebagai penyebabnya.





AHAT bukan hanya mudah berkata kasar, temperamental tapi juga main pukul.



Disaat akun AHAT tidak aktif. Tiba-tiba muncul SS ini.


Ismail Amin dalam dialog diatas, bukan akun pribadi saya. Dan saya punya alibi untuk itu, pertama, gaya penulisan saya tidak seperti itu. Kedua, saya menyebut Jalaluddin Rahmat, dengan Ustad Jalal, bukan Kang Jalal. Penyebutan kang Jalal itu untuk komunitas diluar Syiah. Ketiga, SS itu cacat. Sebab tidak sekalian memuat waktu percakapan itu berlangsung sehingga bisa diklarifikasi.
Tidak lama kemudian, melalui investigasi seorang teman. Ditemukan akun baru yang bernama persis dengan akun AHAT yang berteman dengan akun yang bernama Ismail Amin. Tipu daya apa ini?



Tentu saya tidak menjatuhkan tuduhan bahwa pelakunya si AHAT, sebab saya tidak punya bukti. Tapi setidaknya pengikutnya. Karena dialog fiktif ini merugikan saya. Saya dibully dan difitnah dibanyak obrolan sampai disebut penyebar fitnah.





Jika mengikuti pendapat Jonru, dengan cara barbar yang ditujukan kepada saya, dengan melecehkan saya secara pribadi, menyebut bajingan dan kafir, jadi siapa sebenarnya yang berada pada pihak yang bersalah? saya atau AHAT?. Tidak ada upaya sama sekali dari saya untuk memblokir atau membalas umpatan si AHAT dan pengikut2nya itu atas saya. JONRU menulis, "Dan orang yang melakukan cara bar-bar untuk menyerang lawannya, biasanya adalah PIHAK YANG BERSALAH."



AHAT justru mengaku sendiri dalam klarifikasinya bahwa dia stress dan kejadian ini menguras energi postifnya [sampai yang tersisa hanya energi jahat?]. Kalau tidak salah, mengapa harus stress?. Apa yang disembunyikan? kalau tidak salah, mengapa sampai menyerang pribadi secara verbal dengan menuliskan kata-kata kasar dan tidak beradab?. 

Tidak lama. Akun AHAT aktif lagi. Yang katanya diblokir tapi bisa kembali aktif dengan cepat. Saya karena postingan saya mendapat report, fitur mengirim saya diblokir selama 24 jam. Sementara AHAT bisa kembali mengambil kendali atas akunnya hanya dalam waktu yang tidak begitu lama, sambil menulis status-status terbaru?. Keculasan apa ini?
Begitu kembali mengaktifkan akunnya, AHAT kembali melanjutkan provokasinya. Begini awal statusnya:




Tapi ada yang aneh, dari serangkaian makar yang disebutkan dilakukan atas Syiah, AHAT sama sekali tidak menyinggung mengenai kasus penculikan dan penganiayaan yang menimpa AS. Mengapa?



Lebih mengherankan lagi, AHAT menghapus postingan2nya mengenai kasus itu. Apa yang disembunyikan?

Lihat tanggal pemostingan tanggal 6 Juli, langsung melompat ke hari ini 11 Juli. Status tanggal 9 dan 10 yang memuat penjelasan kasus yang menimpa AS di hapus dari wallnya.




Dan ketika ada yang menanyakannya… AHAT sama sekali tidak memberi respon apa-apa.



Lihat yang ditanyakan akun Andri Alfiansyah. Mengapa tidak dijawab?



Kita kembali ke status provokasi AHAT untuk membasmi Syiah. Lihat betapa lihai dia memutar balikkan fakta. Warga Syiah Sampang yang menjadi korban, tapi disebut sebagai pelaku. Justru korban terbunuh jatuh dari pihak Syiah.



Sampai disini, apa anda masih menaruh percaya atas AHAT dan orang-orangnya? atas keanehan-keanehan dari kasus ini? Setelah katanya terkumpul 65 juta yang dihimpun dari dana netizen, kemana pertanggungjawabannya? apa alasan AHAT menghapus postingan2nya mengenai kasus yang menimpa AS itu? mau menguburkan dan melupakan saja, karena sandiwara ini ternyata terbongkar? semudah itu? sementara fitnah sudah tersebar dan kebencian sudah sedemikian tersulut?. Mengapa anda tidak menanyakan itu? mengapa tidak ada sikap kritis? sementara terhadap informasi yang berbeda dari yang disampaikan AHAT, anda sedemikian kritis dan bertanya sedemikian detail. Apa AHAT itu Nabi yang al Amin dan bisa dipercaya apapun yang disampaikannya?. Sementara saya yang diklaim Syiah, seakurat apapun fakta yang saya beberkan, anda menganggapnya angin lalu, malah berbalik memfitnah dan menuduh saya merekayasa semua ini?. Wallahu al Musta'an. 

Berpikirlah wahai orang-orang yang berakal. Saya tidak menulis ini untuk mengajak anda menjadi Syiah. Syiah tidak lantas menjadi terbukti sebagai ajaran yang benar, hanya karena saya membongkar kebohongan dan fitnah AHAT. Tapi maukah anda merelakan diri anda percaya pada fitnah begitu saja? bahkan menjadi bagian yang turut ambil andil dalam penyebarannya. 

Lihat kontradiksi ini. Ketua MUI menyatakan, Syiah yang mengaku tobat harus diuji dulu selama 5 tahun, untuk menunjukkan mantan Syiah itu tidak lagi taqiyah. Tapi mengapa hal itu tidak berlaku bagi AS padahal dia mengaku bukan Syiah awam, melainkan tokoh penting Syiah di Indonesia, bahkan belajar di kota Qom Iran… mengapa pengakuan2nya lantas dipercaya dan tidak ada proses ujian yang memakan waktu 5 tahun dulu untuk dia?



Mengapa ketika DR. Jalaluddin Rahmat yang tokoh Syiah meskipun telah memperlihatkan ijazah asli dan telah melalui pembuktian dipengadilan, masih juga difitnah memiliki ijazah dan gelar palsu? sementara AS hanya modal ucapan, pengakuannya sebagai alumni Universitas Imam Khomeini di Qom lantas dipercaya?. Ada apa dengan otak anda?

Lihat  cerita orang ini, yang langsung percaya pada AS si Mantan Syiah.



Semudah itukah percaya, meski tanpa bukti?. Sementara meskipun saya mengajukan bukti2 ini sedemikian lengkap tanpa rekayasa sedikitpun, anda menyebut saya berdusta dan menyebar fitnah hanya karena keberadaanku sekarang di Iran dan itu identik dengan Syiah?. Enak benar, hanya karena saya dituding Syiah, semua bukti yang saya ajukan jadi tertolak, sementara AHAT hanya modal surban dan pengetahuan salafnya lantas dipercaya apapun yang dikatakannya, meskipun tanpa bukti sama sekali. Apa cukup, mengatakan “Uang anda pasti kami salurkan ke yang berhak” lantas itu menjadi bukti bahwa apa yang dikatakannya pasti dikerjakannya?. Kalau begitu tidak usah ada bukti transaksi apapun dari bank Syariah, karena semua karyawannya muslim. Kalau begitu harusnya mantan presiden PKS jangan dipenjara, karena dia muslim, dan bukankah dalam pengakuannya, dia mengatakan tidak bersalah, dan tidak melakukan suap?. Harusnya Ustad Guntur Bumi tetap tidak boleh diadili dan dijadikan tersangka, hanya karena ada laporan dari orang-orang yang kena tipu dari praktik pengobatannya, sebab dia itu muslim, seorang ustad pula, jadi dengan menyandang posisi itu, apapun perkataannya harus diterima dan yang melaporkan kesalahannya harus dituding telah menebar fitnah.

Akal.. Kemana akal???
Nalar juga sepertinya ikutan cuti panjang..
Babak belur sampai muntah darah tapi muka mulus tanpa luka..
Diculik dua hari ga dikasih makan.. Tapi masih kuat ngelawan 6 orang plus lompat dari mobil yang lagi jalan.. Sekali lagi tanpa luka!!!

Disuntik cairan sihir yg bikin linglung.. Tapi bisa cerita detail kronologi penculikan..
Sampai pasukan assassin yang super canggih..

Haddewh..   

Berasa nonton film Bollywood yang gagal ngehits..
65juta yang menggiurkan..
Hanya dalam tiga hari..
Itu juga kalo ga nipu lagiiii..
Di Rumah Sakit tapi gada dokter atau perawat yang tanganin.. Malah Tukang Rukyah..
Aahhh... Inilah.. Ayat-ayat Allah dibuat mainan.. Bukan dikaji..
Kalo masih punya nyali..
Kalo masih punyai akal sehat
Muncullah kau, Pul..
Itu juga kalo masih sisa malunya...
[Akun FB: Debu Dibatas Cakrawala ]
Sekarang zaman bukti, siapa yang bisa mengajukan bukti yang tidak lagi bisa dibantah, itulah yang semestinya diterima, bukan hanya bermodalkan katanya…katanya. Atau hanya bermodalkan pengakuan "Saya Muslim", tapi itu hanya bisa ditunjukkan dari pakaian, dan jenggot saja, tapi tidak bisa ditunjukkan melalui kebagusan akhlak dan kejujuran perilaku. 

Sekali lagi, ini bukan masalah Sunni atau Syiah. Kebohongan yang dilakukan AHAT juga tidak ada kaitannya dengan ajaran Salaf yang diyakininya. Ini masalah apakah yang disampaikan AHAT didepan umum itu, benar atau tidak. Berdasarkan fakta atau tidak. 


Ini saja dulu. Saya sudah menyampaikan, terserah pada anda. Saya hanya meminta, jangan rusak amalan ibadah di bulan Ramadhan ini dengan menjadi penyebar fitnah. Terlebih lagi turut ambil dalam terjadinya INDONESIA BERDARAH, yang diidam-idamkan AHAT dan kelompoknya.




Jika ini masih berlanjut, semoga setidaknya ini membuat anda takut, jika anda tidak takut pada ancaman Allah Swt. Dendanya sampai 1 milyar, butuh banyak sandiwara yang harus anda lakukan dengan asumsi satu adegan sandiwara anda bisa kumpulkan  65 juta. 

Oh ya, pak AHAT, kali lain, jika ada dari pengikut atau teman anda dianiaya, segera laporkan polisi, bukan membuat status meminta sumbangan. Saya minta maaf telah membuat anda strees. 




Wallahu ‘alam Bishshawwab

Sementara menetap di Qom-Iran

Kunjungi Fan Page kami di Facebook Ismail Amin




Tanggapan saya mengenai kasus penculikan dan penganiayaan Ali Shofiyurrahman alias Ali Saefullah alias Saeful Rahman.

Orang ini mengaku diculik. Sumber informasinya dari dia seorang. Tanpa saksi, hanya bukti kemejanya yang dipenuhi bercak darah. Dari wajahnyapun tidak ada bekas pemukulan apalagi luka, sampai layak disebut babak belur dan dianiaya. Tidak ada bekas tangannya habis diikat, padahal mengaku disekap selama dua hari. Diapun mengaku pernah kuliah di Qom Iran, tanpa membeberkan bukti otentik apa-apa. Tidak pula ada kesaksian dari istri atau orang paling dekat yang mengenalinya. 
Tapi semua keterangannya dipercaya begitu saja.

Sampai detik ini, diapun tidak pernah memberikan pernyataan terbuka akan kebenaran pengakuannya bahwa dia pernah kuliah di Jamiatul Mustafa atau Universitas Imam Khomeini Qom-Iran sambil menunjukkan bukti-buktinya. Pengakuannya hanya didepan jamaah mereka yang anti Syiah. Dengan menyebut keselamatan dirinya terancam dan mengalami kesulitan ekonomi sejak diusir dari keluarga besarnya yang Syiah karena dia keluar dari Syiah. Lewat cerita itupun dia mendapat simpatik, rasa kasihan dan sumbangan uang, yang konon katanya telah terkumpul 65 juta untuk membantu kondisinya yang memprihatinkan. Tidak hanya mengaku alumni Qom, dia juga mengaku sebagai tokoh penting Syiah yang mengetahui rahasia-rahasia penting pergerakan Syiah di Indonesia, termasuk menurutnya ada rencana Syiah  hendak berbuat makar tahun 2020 dengan menghabisi Ahlus Sunnah Indonesia. Lewat informasinya, Ahlus Sunnah Indonesia diminta wanti-wanti dan waspada. 

Menurut mereka yang mengunjungi dan melihat langsung kondisinya di RS. Polisi, kondisinya disebut kritis dan memprihatinkan. Bahkan diceritakan dia masih dalam keadaan linglung akibat cairan yang berisi sihir yang disuntikkan dilengan dan kepalanya [sempat pula beredar video korban sedang di rukyah] padahal sumber kronologis kejadian penculikan dan penganiayaan berasal dari dia sendiri. Dia -meski disebut dalam keadaan lemah- mampu menceritakan secara detail kronologis kejadian, mulai dari waktunya, jumlah pelaku yang menculiknya sampai mobil yang dikendarai penculiknya, termasuk apa yang dilakukan penculik ketika dia disekap, yaitu dia melihat penculiknya melakukan shalat ala Syiah, sehingga dia bisa memastikan penjahat pelaku penculikan dan penganiayaan itu dari komunitas Syiah. Kronologis kejadian yang dia ceritakan itulah, yang kemudian dimuat oleh media2 anti Syiah.

Beredar pula, video wawancara dengan Farid Okbah yang dipublish Voa Islam Video Online [VIVO] melalui Youtube mengenai kronologis kejadian. Video ini justru semakin menunjukkan keganjilan dari kasus ini.

Pada menit ke 4:18, Farid Okbah menceritakan –sebagaimana yang didengarnya dari Ali Shofiyurrahman- bahwa korban disaat sementara disekap, dia melihat pelaku penculikan melakukan shalat ala Syiah, dan sehabis shalat mereka membaca zikir, dan zikir yang dibaca adalah zikir Jausyan Kabir.

Siapapun yang tahu mengenal ritual-ritual Syiah akan tertawa mendengarkan pengakuan itu. Kalau memang Ali Shofiyurrahman itu pernah Syiah [apalagi menurut pengakuannya pernah belajar di Qom], dia pasti tahu bahwa Jauzan Kabir itu bukan zikir tapi doa, lagian bukan dibaca sehabis shalat. Syiah sehabis shalat itu membaca zikir tasbih az Zahrah, bukan Jauzan Kabir. Dengan membaca normal Jauzan Kabir itu memakan waktu satu sampai satu setengah jam, dan mungkinkah penculik itu menyempatkan diri melakukannya disaat mereka justru sedang melakukan penculikan? [kurang kerjaan amat].

Karena Ali Shofiyurrahman menurut pengakuan sejumlah ikhwan Syiah bahwa dia memang pernah ikut pengajian Syiah tapi tidak sampai menjadi dai Syiah, maka dia pasti tahu Jauzan Kabir itu. Dan tidak logis menyampaikan itu ke Farid Okbah, karena memang dari sisi kejadian, pelaku bisa dipastikan tidak membaca itu, baik separuh maupun semuanya. Karena itu kemungkinan besar Farid Okbah yang berbohong dalam keterangannya, untuk menunjukkan bahwa dia memang layak disebut pakar Syiah [sampai tahu kebiasaan dan ritual Syiah sehabis shalat meskipun itu mengada-ngada].

Dari keterangan Farid Okbahpun tidak ada adegan, Ali Shofiyurrahman itu ditolong oleh pengendara motor yang membawanya ke masjid at Tin. Tapi diceritanya, si Ali itu lari sendiri menuju masjid at Tin dan kemudian mengabarkan kondisinya kepada teman-temannya. Sementara di media disebutkan Ali ditolong oleh pemuda geng motor yang membawanya ke masjid at Tin.

Keganjilannya, si Ali disekap sejak ahad sampai selasa. Jadi sekitar dua hari, tidak diberi makan dan minum bahkan tidak diberi kesempatan shalat. Dia dianiaya, dipukul diulu hati berkali-kali sampai muntah darah, bahkan disuntik [sebagian media anti Syiah menyebutnya racun mematikan, sebagian lagi menyebutnya racun berisi cairan yang mengandung sihir] yang menyebabkan badannya melemah dan keluar darah dari telinga dan mulutnya.
Diapun kemudian dibawa kedalam mobil yang kemudian menuju Bogor dengan dijaga oleh 6 orang. Memasuki wilayah Taman Mini, dia menyikut penjaganya dan kemudian melompat keluar dari mobil. Mungkinkah?

Bisakah orang yang tidak makan minum selama dua hari, sudah dianiaya, sudah disuntik sampai muntah darah namun bisa melepaskan diri dari enam orang yang menjaganya, kemudian melompat dari mobil?. Dia dijaga sampai enam orang menunjukkan, bahwa dia tidak boleh sampai lolos, tapi kok dibiarkan dan tidak dikejar?. Dan dari cerita versi Farid Okbah dia lari ke masjid at Tin. Logiskah, dalam kondisi kritis dia bisa melakukan itu?.

Ada dua kemungkinan, penculikan dan penganiayaan itu tidak ada, atau ada tapi kondisinya tidak sekritis sebagaimana yang diceritakan, melainkan dia tetap bugar, sehat dan tidak linglung sebab bisa dengan lancar menceritakan kronologisnya dengan sedetail-detailnya dihari pertama dia mendapatkan perawatan di IGD. Dari fotonya yang tersebar juga bisa dilihat, bahwa kondisinya masih bugar, dari kemejanyapun yang tampak hanya bercak darah. Jika diceritakan dia muntah darah, noda darah yang memenuhi kemejanya harusnya lebih banyak.

Sayang, tidak ada keterangan dari perawat ataupun dari pihak polisi mengenai kasus ini. Sampai sekarang belum dideteksi siapa pelakunya, padahal korban mengaku mengenal salah satu dari mereka.

Mengapa tidak ada pengusutan? mengapa tidak ada satupun media nasional atau media professional yang menjadikan kasus ini sebagai berita?
Perang wacanakah? dan apa kepentingannya? mengapa kasus kriminal langsung dengan begitu mudah dikaitkan dengan kelompok tertentu sampai harus ada kampanye basmi dan bantai Syiah segala?. Mengapa tidak menahan diri agar kasus ini diusut dulu oleh kepolisian sehingga motif pelaku penculikan dan penganiayaan bisa diketahui?. Ataukah memang kasus ini tidak dilaporkan kepihak kepolisian, supaya tidak terbongkar kebohongannya?.

Wahai Farid Okbah, mau anda apa? kalau memang penculikan itu benar ada, mengapa bukan korban yang diwawancarai melalui video? kalau dikatakan kondisinya belum membaik dan masih kritis, mengapa bisa memberi keterangan sedemikian detail saat menceritakan kronologis kejadian pada media-media online dihari pertama dia terluka? mengapa si Abu Husain at Thuwailibi yang bicara mengenai keadaannya? mana keluarganya? mana tetangganya? mana pengendara motor yang menolongnya? mana pengurus masjid at Tin tempat dia ditemukan tidak berdaya? mana perawat atau dokter di RS yang menangani penyakitnya dan lebih layak memberikan keterangan medis? mengapa harus si tukang rukyah yang memberi keterangan?kalau luka-luka harusnya divisum, bukannya dirukyah, mana keterangan dan kesaksian kesemua orang-orang yang berkaitan langsung dengan kasus itu? mana keterangan dan kesaksian murid si ust. Ali kalau memang dia mantan dai Syiah?.

Apa sulitnya si alumni Qom ini memberikan keterangan melalui video mengenai tahun berapa di kuliah Qom, berapa kode mahasiswanya, siapa saja teman angkatannya, dimana alamatnya dia tinggal di Qom dan siapa saja nama dosen yang mengajarinya? kalau memang menurut pengakuannya, semua berkas-berkasnya telah hilang diambil sipenculik. Bisa bahasa Persia tidak lantas menunjukkan seseorang pernah kuliah di Qom, apalagi menunjukkan kelihaian bahasa Persianya hanya  didepan orang-orang yang tidak tahu bahasa Persia. 

Kami masyarakat menuntut kasus ini dibuka dengan sejelas-jelasnya [terlebih Syiah sebagai pihak yang paling dirugikan dari merebaknya berita ini], bukan hanya nomor rekening si Abu Husain at Thuwailibi ketika meminta sumbangan saja yang dipertontonkan seterang-terangnya. Kalau memang ini benar-benar terjadi. Dan kalau memang anda semua pendakwah, bukan provokator.

Dan kepada pengguna media sosial, cerdas-cerdaslah memilah informasi.  Tabayyun dan analisalah lebih dulu sebelum menyebarkannya. Jangan hanya karena yang menyampaikannya berjubah, bersurban dan berjenggot lantas dipercaya begitu saja, sebab Abu Lahab juga penampilannya begitu. Cukuplah dikatakan pendusta kata Nabi Saw, mereka yang menyebarkan  apa saja yang didengarnya. [HR. Muslim]

Ismail Amin
Sementara menetap di Qom
Welcome to My Blog

Tentang Saya

Foto saya
Lahir di Makassar, 6 Maret 1983. Sekolah dari tingkat dasar sampai SMA di Bulukumba, 150 km dari Makassar. Tahun 2001 masuk Universitas Negeri Makassar jurusan Matematika. Sempat juga kuliah di Ma’had Al Birr Unismuh tahun 2005. Dan tahun 2007 meninggalkan tanah air untuk menimba ilmu agama di kota Qom, Republik Islam Iran. Sampai sekarang masih menetap sementara di Qom bersama istri dan dua orang anak, Hawra Miftahul Jannah dan Muhammad Husain Fadhlullah.

Promosi Karya

Promosi Karya
Dalam Dekapan Ridha Allah Makassar : Penerbit Intizar, cet I Mei 2015 324 (xxiv + 298) hlm; 12.5 x 19 cm Harga: Rp. 45.000, - "Ismail Amin itu anak muda yang sangat haus ilmu. Dia telah melakukan safar intelektual bahkan geografis untuk memuaskan dahaganya. Maka tak heran jika tulisan-tulisannya tidak biasa. Hati-hati, ia membongkar cara berpikir kita yang biasa. Tapi jangan khawatir, ia akan menawarkan cara berpikir yang sistematis. Dengan begitu, ia memudahkan kita membuat analisa dan kesimpulan. Coba buktikan saja sendiri." [Mustamin al-Mandary, Penikmat Buku. menerjemahkan Buku terjemahan Awsaf al-Asyraf karya Nasiruddin ath-Thusi, “Menyucikan Hati Menyempurnakan Jiwa” diterbitkan Pustaka Zahra tahun 2003]. Jika berminat bisa menghubungi via SMS/Line/WA: 085299633567 [Nandar]

Popular Post

Blogger templates

Pengikut

Pengunjung

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Ismail Amin -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -