Archive for April 2015

Kalau di Indonesia kita mengenal Gubernur Bantern [2007-2014] Ratu Atut Chosiyah sebagai gubernur perempuan pertama dan Salawati Daud walikota Makassar [1949] sebagai walikota perempuan pertama di Indonesia, di Iran dikenal Zahra Sadr A’dzham Nuri sebagai walikota perempuan pertama di Republik Islam Iran. Ia menjabat Walikota Tehran wil. VII pada tahun 1995 diusia  34 tahun dimasa pemerintahan Presiden Ali Akbar Hasyim Rafsanjani. Ia adalah doktor dalam manajemen lingkungan. 

Pasca menjalani jabatannya sebagai walikota ia kemudian menjadi kepala dinas lingkungan hidup dan menjadi anggota dewan majelis. Saat ini menjadi anggota dewan penasehat Presiden Dr. Hasan Rouhani dalam bidang manajemen lingkungan hidup dan tata kota.

Selain Zahra Sadr A’dzham Nuri, terdapat sejumlah walikota perempuan lainnya di beberapa kota Iran, walaupun sampai saat ini, tidak ada lagi dari kaum perempuan Iran yang menjabat sebagai walikota Tehran. 

Pada tahun 2003 di kota Saweh terpilih Mehri Rustai Girayalu sebagai walikota di kota tersebeut. Ia menjabat posisi prestisius tersebut sampai tahun 2005. Ilhah Mawali Zadeh perempuan Iran lainnya yang menduduki jabatan walikota. Ia menjabat walikota Ahvaz wil. II pada tahun 2007. Ia lulusan jurusan ekonomi dan ilmu sosial di Universitas Chamran.

Mutsiqan Nuri pada tahun 2003 terpilh sebagai walikota di Amlash di Provinsi Ghilan dalam usia 34 tahun. Ia adalah sarjana matematika dan pasca menunaikan amanah sebagai walikota ia menjadi ketua DPRD kota Amlash. Saat ini ia aktif menjadi tenaga pengajar di universitas di kotanya.

Kota Masyhad juga tidak ketinggalan. Kota tempat dimakamkan Imam Ridha As ini mempersembahkan Shararah Ma’daniyan sebagai walikota Masyhad wil. VI pada tahun 2005. Di kota Tabriz, Syaiftah Badar Adzar usia 43 tahun menjadi walikota Tabriz wil. VII pada tahun 2009.

Walikota perempuan lainnya di Iran adalah Maryam Pakezad. Ia menjadi walikota Laulaman di provinsi Ghilan dalam usia 32 tahun pada tahun 2012. Ia lulusan S2 Universitas Ghilan jurusan IT. Sampai saat ini ia masih memegang jabatan sebagai walikota. Ia sempat memegang rekor sebagai walikota termuda di Iran, yang menduduki jabatan tersebut di usia 32 tahun, sampai kemudian dipecahkan oleh walikota lainnya yang juga dari seorang perempuan bernama Samiyah Bluchzahi. Ia terpilih sebagai walikota Kalat [ibu kota Sarbaz] di Provinsi Sistan-Bluchistan dalam usia 26 tahun. 

Menariknya ia warga Iran bermazhab Ahlus Sunnah dan mengantongi titel Master dalam bidang manajemen Industri yang diraihnya di Universitas Ulum wa Tahqiqat Tehran.

Namun rekor inipun berhasil dipecahkan oleh Syakufah Syahabih Pur, yang menjabat walikota Sargez Ahmadi di provinsi Harmezghan dalam usia 23 tahun. Saat menjabat ia masih tercatat sebagai mahasiswa S2 jurusan arsitektur di Universitas Bandar Abbas. Dua orang walikota yang terakhir ini, selain tercatat sebagai yang termuda, keduanya juga walikota di Iran yang belum menikah saat menduduki jabatan tersebut.  

Fakta-fakta ini menunjukkan, perempuan-perempuan muda Iran tidak kalah bersaing dari kaum prianya, termasuk dalam menduduki jabatan prestisius di pemerintahan kota.

Ismail Amin, sementara menetap di Qom Iran

Imam Khomeini Aslinya India dan Beragama Sikh?

Sabtu, 25 April 2015
Posted by ismailamin

Begini, ditiap negara bagaimanapun seorang tokoh dielu-elukan dan dipuja, ada saja segelintir orang yang menaruh kebencian dan permusuhan, baik itu dari dalam negeri, maupun dari pihak asing. Dan agar kecintaan dan loyalitas rakyat menjadi luntur atas ketokohannya, maka dirasa perlu untuk dibuatkan fitnah dan isu yang membuat martabat dan kehormatannya jatuh dimata pendukungnya. Apapun dan bagaimanapun cara yang ditempuh. Kalau ide-ide dan pemikirannya tidak bisa dilemahkan, maka yang diserang adalah pribadinya, tampilan fisiknya, cara berpakaian dan logat bicaranya. Namun jika dari kepribadiannya pun tidak ditemukan titik cacatnya, maka yang dihantam adalah silsilah keluarganya.

Kita ingat, meskipun Prabowo tetap mendapatkan black campaigne dari kubu rivalnya, namun tidak seseram apa yang didapat oleh Jokowi. Silsilah keluarganya, dipreteli. Ia disebut keturunan PKI, keturunan Tionghoa bahkan aslinya beragama Kristen. Tentu saja untuk meyakinkan, maka dibuatlah data-data dan kesaksian-kesaksian yang katannya orang terdekat. Meski sampai sekarang  kecinaan’nya tidak terbukti, tidak sedikit yang mempercayainya. 

Saking ‘ilmiah’nya fakta-fakta yang disodorkan, bahkan termasuk kealumnian Jokowi dari UGM pun diragukan kebenarannya. Prabowo dibuatkan isu punya pacar orang Thailand, dengan data-data yang seolah akurat.  Begitupun dengan SBY, setelah terpilih jadi Presiden, baru status istrinya, Ani Yudoyono diungkit sebagai bukan istri pertama SBY melainkan yang kedua.

Kejadian seperti ini tidak hanya ada di Indonesia. Masa kampanye presiden AS, Obama diisukan gay. Bahkan istrinya disebut aslinya laki-laki yang bernama Michael Robinson yang kemudian melakukan operasi transgender. Anak-anaknya bukanlah anak kandung, melainkan sekedar anak yang mereka pungut dan asuh. Bukti-bukti ‘otentik’ disodorkan. Foto-foto Michael sebelum berubah menjadi Michelle disebar kepublik. Kesaksian dan pengakuan dari orang dalam Istana disodorkan, sehingga isu itu betul-betul tampak sangat meyakinkan.

Nah, terlebih lagi di Iran. Ahmadi Nejad oleh tim kampanye rivalnya, dibuatkan isu bahwa ia keturunan Yahudi dan bukan berkebangsaan asli Iran, tapi usaha itu tidak berhasil, karena ia terpilih sampai dua periode menjadi presiden Iran. Imam Ali Khamenei diterpa tudingan bahwa dengan posisinya sebagai pimpinan tertinggi Iran, ia hidup korup, glamour dan bermewah-mewahan, meski akhirnya terbukti, kursi tamunya yang dipakai sejak 20 tahun lalu, masih terpakai sampai sekarang, dan hanya berganti cat saja, saking sederhananya. 

Berkenaan dengan Imam Khomeini, musuhnya bukan hanya dari orang dalam Iran, namun juga orang luar yang kepentingannya atas Iran diputus dan diluluh lantakkan.

Meski rakyat yang sepakat Iran menjadi Republik Islam dengan Imam Khomeini sebagai pemimpin tertingginya, sebanyak 98,2 %, namun tetap saja ada segelintir orang yang anti Revolusi Islam dan anti Imam Khomeini, khususnya dari sisa-sisa partisipan Syah Pahlevi. Merekalah yang bekerja under ground menyebar isu-isu yang tidak sedap mengenai Imam Khomeini. Mulai dari pembajakan revolusi yang katanya direbut dari kelompok kiri, maupun menyerang kepribadian Imam Khomeini. 

Karya-karyanya dipelintir, pernyataan-pernyataannya di salah artikan, sampai dibuatkan buku yang seolah ilmiah dan faktual, Lillahi, Tsumma li Tarikh yang mengaku sebagai muridnya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul yang provokatif, Mengapa Saya Keluar dari Syiah. Kemudian hari buku itu dipreteli kedustaan dan data-data rekayasa yang terdapat di dalamnya.
Sama halnya sebagian tokoh besar lainnya yang berusaha untuk dikerdilkan, silsilah Imam Khomeini juga di otak-atik. 

Sekali lagi dengan data yang seolah ilmiah, Kakek Imam Khomeini disebut berasal dari India dan beragama Sikh, lengkap dengan foto hitam putih yang diklaim memperkuat faktanya sehingga otomatis kesayyidannya sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw digugat dan dipertanyakan. Termasuk orisinalitas ajaran dan pandangannya yang diklaim bercampur baur dengan paham para pendahulunya yaitu agama Sikh, sehingga tidak layak mengatas namakan Islam.

Tulisan ini bukan untuk membantah, atau untuk menunjukkan kepalsuan tuduhan tersebut, yang dimanfaatkan segelintir orang di Indonesia untuk menunjukkan kesesatan dan kekufuran Syiah. Yang berwenang mengurusi silsilah Imam Khomeini adalah pemerintah Iran, yang tentu memiliki tim khusus untuk menyelidikinya. Saya hanya mau mengatakan, lihat apa yang disampaikan Imam Khomeini, dan apa yang telah dipersembahkannya. Apakah yang disampaikannya baik dalam orasi maupun tulisan-tulisannya ada yang bertentangan dengan Islam dan nilai-nilai kemanusiaan? Apakah ada yang diperbuatnya yang membuat Islam diremehkan dan dipermalukan? apakah ada dari kebijakannya yang meruntuhkan sendi-sendi ajaran Islam? 

Ingat, nukil itu dari bukti otentik yang disampaikan Imam Khomeini, bukan dari karyanya yang dibajak, diterjemahkan dan dipahami serampangan.

Ketika kau membenarkan bahwa paham seorang tokoh sangat dipengaruhi oleh paham nenek moyangnya, maka ragukanlah apa yang telah dipersembahkan Imam Bukhari untuk dunia Islam. Kakek Imam Bukhari bernama Bardizbah, bukan saja ia seorang berkebangsaan Persia, namun juga beragama Majusi. 

Kalau kau meyakini, Syiah adalah agama bentukan orang-orang Persia yang dendam kepada umat Islam yang meruntuhkan kebesaran imperiumnya, maka Imam Bukhari yang keturunan Persia dan cucu seorang Majusilah yang patut kau curigai hendak menghancurkan Islam.
Tapi kan ternyata tidak. Umat Islam malah memposisikan persembahan Imam Bukhari memiliki derajat teratas setelah Al-Qur’an dibandingkan kitab-kitab yang disusun muhaddits lainnya.
Artinya apa?.

Pertama, kalaupun benar Imam Khomeini keturunan India, memangnya kenapa? toh orang Iran sendiri menerimanya sebagai pahlawan bagi kemerdekaan Iran dari kezaliman dinasti Pahlevi, dan sampai sekarang ia tetap dielukan dan dicintai.

Kedua, kalaupun benar kakeknya beragama Sikh, lantas kenapa? apa lantas ide-ide pemikiran dan karya-karyanya akan terkontaminasi oleh keyakinan kakeknya?.

Toh, hal yang saja juga berlaku kepada Imam Bukhari, Amir al-Mu'minin fi al-Hadith. Yang meskipun kakeknya orang Persia ia tetap dibanggakan umat Islam termasuk orang-orang Arab, dan meskipun kakeknya beragama Majusi, karyanya tetap diagungkan, dan dianggap paling sahih kedudukannya setelah Al-Qur’an. 

Selamat mencerna, cukuplah dikatakan pendusta, kata Nabi Saw, mereka yang mempercayai dan menyebarkan apa saja yang didengarnya…

Keterangan foto:  Foto diatas diklaim sebagai Imam Khomeini dimasa kecil, beserta kakeknya yang menggendong, padahal foto ini Maharaja King Anand Rao, raja kecil di salah satu kabilah di India. 
Ini sumbernya: https://www.pinterest.com/pin/403987029046110739/

NB: Buat Fimadani, Islam pos dan media2 anti Iran dan Syiah, jangan lantas karena sumbermu berbahasa Persia mengenai Republik Islam Iran dan Imam Khomeini kaupun menganggap itu bukti otentik, karena tidak sedikit orang Iran sendiri yang besar kebencian dan permusuhannya terhadap Republik Islam Iran dan Imam Khomeini… sehingga tidak segan, membuat2 berita palsu dan fitnah-fitnah murahan… ya, sama persis, sebagaimana yang biasa kau lakukan ^_^

Sepuluh Andalan Mereka yang Anti Syiah

Kamis, 23 April 2015
Posted by ismailamin
Tag :
Kita bisa adu argumen, kelompok anti syiah itu mengandalkan apa untuk menyebut syiah itu sesat bahkan bukan Islam?



Ini sepuluh diantaranya yang menjadi andalan mereka.

Pertama, mengandalkan buku Panduan MUI Pusat “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di indonesia.” Buku tipis yang tidak berstempel MUI dan tidak pula ditandatangani pejabat MUI Pusat, sebagaimana buku-buku resmi MUI lainnya.

Kedua, mengandalkan fatwa MUI Jatim. Fatwa bersifat lokal tapi dipaksakan untuk diberlakukan diseluruh Indonesia.

Ketiga, mengandalkan ucapan Imam Syafi’i rahimahullah dan Imam-imam mazhab lainnya, yang menyebutkan syiah sesat, pendusta bahkan kafir. Padahal di teks aslinya adalah rafidah, bukan syiah. Bahkan sebagian ulama Syiah sendiri menganggap sesat kelompok rafidah.  Mengandalkan ayat-ayat al-Qur’an yang mereka tafsirkan sesuai dengan kepentingan mereka, dan menafikan adanya penafsiran lain yang juga absah. Mengandalkan hadits-hadits dan riwayat yang lemah, padahal tidak sedikit hadits dan riwayat shahih yang justru terdapat dalam literature muktabar  Ahlus Sunnah sendiri yang menjustifikasi kebenaran mazhab Syiah. Seperti hadits 12 khalifah, hadits Gadir Khum, hadist Ashab al Kisa, hadits sujud diatas tanah dan seterusnya.

Keempat, mengandalkan fatwa ulama-ulama Saudi atau ulama-ulama yang berafiliasi pada mazhab yang berkembang di Saudi. Padahal ulama-ulama lain juga punya fatwa, utamanya ulama-ulama al Azhar Mesir yang menyebutkan Syiah adalah mazhab sah dalam Islam.

Kelima, mengandalkan kesepakatan 200 orang yang berkumpul di Bandung dan kota lainnya, yang katanya kesemuanya adalah ulama yang telah mendeklarasikan ANAS, Aliansi Nasional Anti Syiah dan menyerukan kesesatan dan kekafiran Syiah. Sementara Risalah Amman di Yordania ditandatangani kurang lebih 500 ulama Sunni dan Syiah dan menyepakati mazhab-mazhab yang sah dalam Islam termasuk Syiah.

Keenam, mengandalkan ucapan ulama-ulama dan tokoh-tokoh Indonesia yang anti Syiah termasuk tokoh NU dan Muhammadiyah. Padahal ulama dan tokoh-tokoh Indonesia yang mengakui keberadaan Syiah sebagai mazhab Islam jauh lebih banyak, lebih populer dan lebih tinggi dari sisi keilmuan, ketawadhuan, pengalaman, kharismatik dan posisi jabatan strukturalnya, bahkan lebih banyak karya-karyanya. Diantara mereka ada Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ketua Umum MUI Pusat, Ketua Umum PB Nahdatul Ulama, pejabat Kementerian Agama, Rektor dan guru-guru besar UIN se Indonesia dan seterusnya, bahkan mereka telah berkali-kali mengunjungi Iran yang dikenal sebagai pusat pendidikan mazhab Syiah dan berdialog dengan ulama-ulama besar Syiah.

Sementara yang anti Syiah, mengandalkan buku-buku anti Syiah yang ditulis oleh penulis-penulis Indonesia yang tidak pernah mengunjungi langsung pusat pendidikan Syiah di Qom dan di Najaf, tidak pernah menghadiri majelis ulama-ulama Syiah dan tidak pernah pula melakukan dialog langsung dengan satupun ulama marja Syiah. Jadi wajar kalau kesimpulan yang diambil malah bias, dan tidak obyektif.

Ketujuh, mengandalkan konflik di Suriah, bahwa rezim Bashar Asad yang Syiah telah melakukan pembantaian dan pembunuhan keji kepada rakyatnya yang Ahlus Sunnah. Padahal kenyataannya, Suriah malah memberikan pengungsian kepada warga Palestina yang Ahlus Sunnah di camp Yarmouk, mengizinkan pendirian kantor HAMAS di Damaskus yang di Indonesia saja dilarang dan berkali-kali melakukan kontak senjata langsung dengan militer Israel. Dan terbukti pula, bahwa kelompok-kelompok militan yang melakukan agresi ke Suriah dan hendak menjatuhkan Bashar Asad adalah kelompok-kelompok teroris, yang bahkan dengan bangga memamerkan aksi-aksi kekejiannya lewat video-video amatir. ISIS telah difatwakan oleh ulama bahkan termasuk ulama Arab Saudi sendiri sebagai kelompok yang telah keluar dari Islam.  

Kedelapan, mengandalkan buku, mengapa saya keluar dari Syiah karya Sayyid Husain Musawi. Katanya penulisnya adalah ulama Syiah dan keturunan Ahlulbait, tapi tidak disebutkan silsilahnya, orangtuanya, guru-muridnya, murid-muridnya, bahkan karya-karyanya kecuali buku tipis 153 halaman tersebut. Padahal sudah menjadi kelaziman kesemuanya itu harus disebutkan dalam catatan biografi seorang ulama. Bahkan pada  penjelasan dalam bukunya dia memperkenalkan diri sebagai seseorang yang memiliki kedudukan istimewa disisi Imam Khomeini, dan juga pernah ketemu dengan Sayid Daldar Ali penulis kitab Asas al-ushul, ulama Syiah abad 19 yang 100 tahun sebelumnya telah wafat sebelum penulis buku ini lahir.

Buku ini edisi terjemahan bahasa Indonesia pertama kali diterbitkan tahun 2002, dan masih juga diandalkan sampai sekarang [sudah 12 tahun, mestinya ada ulama Syiah lain yang juga terpengaruh dan keluar dari Syiah, atau minimal mantan murid-muridnya], meski telah mendapatkan bantahan dan telah dibuktikan kedustaannya. Di Timur Tengah sendiri buku ini tidak laku, dan tidak lagi mengalami proses naik cetak secara resmi, kecuali dicetak secara indie, untuk mengelabui masyarakat awam.

Kesembilan, mengandalkan foto-foto editan, kisah-kisah palsu dan berita-berita bohong. Diantara foto editan yang paling sering diandalkan adalah foto prosesi pemakaman Imam Khomeini yang katanya kain kafan dan mayatnya sampai tercabik-cabik dan dipermalukan. Foto ini dibantah dengan video prosesi pemakaman jenazah Imam Khomeini, yang bahkan pada hari Hnya disiarkan secara live di seluruh dunia. Kisah palsu yang diandalkan adalah kisah pertemuan Syaikh Ahmad Deedat dengan ulama-ulama Syiah di Iran, setelah Kisah Pasien Terakhir tidak lagi bisa diandalkan karena telalu vulgar kepalsuannya.

Syaikh Ahmad Deedat tidak tanggung-tanggung dibawa-bawa untuk menjadi aktor sebuah drama palsu. Padahal kisah tersebut, caplokan dari kitab "Munazharat fil-Imamah" Juz ke-3, karya Syaikh Abdullah Al-Hasan. Adapun judul asli dari kisah itu adalah, "Munazharat Ats-Tsaminah wa Khamsun: Munazharat Al-'Allamah Hilli Ma'al 'Ulama Al-Madzahib Al-Arba'ah bi Mahdhar-i Syah Khuda Bandeh" yang artinya Perdebatan yang ke-58: Perdebatan Allamah Hilli bersama Para Ulama Empat Mazhab dengan Kehadiran Syah Khuda Bandeh. Tapi kemudian, dengan mengatasnamakan Syaikh Ahmad Deedat rahimahullah, kisah itu diputar balikkan. Syaikh sendiri pernah ke Iran tanggal 3 Maret 1982, justru bukan untuk berdebat tapi menyampaikan pidato yang menegaskan pentingnya persatuan Islam, begini diantara kutipannya:

“Saya katakan kenapa Anda tidak bisa menerima saudara Syiah sebagai mazhab kelima? Hal yang mengherankan adalah dia (Syiah) mengatakan kepada Anda bahwa dia ingin bersatu dengan Anda. Dia tidak mengatakan tentang menjadi Syiah. Dia berteriak “Tidak ada Sunni atau Syiah, hanya ada satu hal, Islam.” Tapi kita mengatakan kepada mereka “Tidak, Anda berbeda. Anda Syiah”. Sikap seperti ini adalah penyakit dari setan yang ingin memecah kita. Bisakah Anda membayangkan, kita Sunni adalah 90% dari muslim dunia dan 10% adalah Syiah yang ingin menjadi rekan saudara satu iman tapi yang 90% ketakutan. Saya tidak mengerti mengapa Anda yang 90% menjadi ketakutan. Mereka yang seharusnya ketakutan.”

Cuplikan Video Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=6kJB72972Q8 ]

Kalau berita-berita bohong, terlalu banyak yang harus diklarifikasi. Mereka membuat-buat dan menyebarkannya dengan begitu ringannya seakan-akan kelak tidak dimintai pertanggungjawaban. Wallahu al Mustaan.

Kesepuluh, mengandalkan , fitnah, prasangkaan, kecurigaan, kebencian, fanatisme buta, umpatan, kata-kata kasar dan ancaman bunuh. Ketika semua fakta telah diajukan, argumentasi telah diberikan, hujjah telah dipaparkan, dan bukti-bukti tidak lagi bisa mereka bantah, maka mereka akan mengandalkan kebencian untuk tetap menunjukkan permusuhan.

Kata-kata laknat, makian, umpatan dan ancaman mati menjadi santapan sehari-hari bagi mereka yang diklaim Syiah. Argumentasi apapun yang diberikan, mental dihadapan mereka, dengan alasan Syiah itu pendusta, pembohong dan tidak layak untuk dipercaya dan didengar kata-katanya. Buku-buku penulis Syiah, hatta itu bukan tema keagamaan tetap harus diwaspadai, dicurigai dan sangat membahayakan bagi mereka. Mereka bahkan sampai repot-repot untuk membuat list daftar buku-buku Syiah yang harus dijauhi dan terlarang untuk dibaca.  

Mereka menyebar fitnah, Syiah al-Qur’annya beda, melakukan praktik nikah mut’ah meskipun dengan istri orang lain, meski tanpa izin wali dan tanpa membutuhkan masa iddah, melaknat dan mencaci maki sahabat dan istri-istri Nabi, pendusta dan melukai diri dengan berdarah-darah di hari Asyura. Ini semua sudah dibantah dalam banyak tulisan-tulisan ulama dan cendekiawan syiah.

Intinya, kalau bukan muslim, mengapa mereka yang Syiah tetap dibolehkan memasuki Haramain?, sementara konsideran agama kita jelas, bahwa orang-orang kafir dan musyrik diharamkan untuk memasuki Haramain. Syiah bahkan diberikan izin dan perlakuan khusus untuk bisa menjalankan tradisi-trasisi khas mereka di tanah haram pada musim haji dan umrah.

Sumber mereka buku-buku anti Syiah, akun-akun palsu di Twiter dan Fesbuk, video-video yang tidak jelas sumbernya di Youtube, ceramah-ceramah ulama Syiah yang tidak muktabar dan mengorek-ngorek fatwa-fatwa ulama Syiah tempo dulu yang sudah tidak berlaku.

Sumber mereka buku-buku anti Syiah, akun-akun palsu di Twiter dan Fesbuk, video-video yang tidak jelas sumbernya di Youtube, ceramah-ceramah ulama Syiah yang tidak muktabar dan mengorek-ngorek fatwa-fatwa ulama Syiah tempo dulu yang sudah tidak berlaku.

Ini sepuluh andalan mereka yang anti Syiah untuk mempropagandakan kepada masyarakat muslim Indonesia, bahwa Syiah itu sesat, kafir dan sangat membahayakan eksistensi NKRI. Sesuatu yang tidak terbukti, sebab Syiah sudah ada di nusantara ini, jauh sebelum republik ini terbentuk.

Wallahu’alam Bishshawwab


Ismail Amin, sementara menetap di Qom-Iran

Kemajuan Iran dan Kebanggaan Sebagai Muslim

Selasa, 21 April 2015
Posted by ismailamin
Tag :
Menceritakan apapun tentang Iran, cenderung dicurigai membawa misi tertentu. Namun saya merasa terpanggil untuk menceritakannya, terutama karena banyaknya hal yang bisa menjadi pelajaran bagi bangsa kita. Iran, sebuah negeri fenomenal yang mendapat simpatik, pujian, pembelaan dan hujatan sekaligus. 

Negeri yang lewat CNN, Amerika menyebutnya sebagai bangsa yang keras kepala, yang oleh sebagian kaum muslimin menjadikan Iran sebagai kebanggaan baru, kiblat alternatif pergerakan dan perlawanan terhadap hegemoni Amerika namun sebagiannya lagi tetap juga memasang wajah permusuhan dan kecurigaan. Iran dengan mazhab Syiah mayoritas rakyatnya, tetap dinilai sebagai musuh dan diluar Islam. 

Apapun yang berasal darinya dicurigai sebagai kedok semata untuk memberangus dan menghancurkan Islam dari dalam. Apapun yang berasal darinya, fiqh, hadits, tradisi, teologi, filsafat bahkan penemuan-penemuan mutakhirnya diisolasikan dan dipinggirkan dari dunia Islam. Syiah sering mendapat  tuduhan dan fitnah sebagai agama tersendiri dan bukan bagian dari Islam. Namun, bagai pepatah, anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu, 

Iran dengan masyarakatnya yang mayoritas Syiah menjawab segala tuduhan-tuduhan dan berbagai tudingan miring dengan kerja-kerja positif yang nyata. Iran menjadi negara terdepan dan paling aktif memberikan pembelaan atas penindasan yang masih juga dirasakan rakyat Palestina. Tidak sekedar melalui diplomasi politik, Pemerintah Iran  juga memberikan bantuan secara nyata dengan menjadikan Palestina tidak ubahnya salah satu provinsi yang menjadi bagian negaranya,dengan menanggung gaji pegawai di tiga departemen. Menanggung hidup 1.000 pengangguran senilai 100 dolar setiap bulannya. Membiayai total pembangunan gedung kebudayaan, perpustakaan serta renovasi 1.000 rumah yang hancur dengan total biaya 20 juta dolar. Belum lagi bantuan lainnya yang diberikan tanpa persyaratan apapun. Pembelaan dan dukungan Iran atas perlawanan rakyat Gaza menghadapi agresi militer Israel akhir tahun 2012 kemarin, membuat pimpinan HAMAS mewakili rakyat Gaza menyampaikan rasa terimakasihnya secara terbuka kepada Iran.  

Dengan keberhasilan meluncurkan roket pembawa satelit "Safir Omid" dan sebuah maket satelit percobaan di orbit bumi, Iran menjadi negara regional pertama yang mandiri tanpa bantuan asing, baik dalam membuat satelit maupun dalam meluncurkan dan mengontrolnya. Semakin diserang dengan propaganda negatif dari berbagai arah, ulama-ulama, ilmuan-ilmuan, olahragawan, sampai seniman mereka seakan berlomba-lomba untuk menunjukkan prestasi dan menampakkan kecemerlangan Islam. Lihat saja apa yang dilakukan ilmuan mereka, hampir dalam hitungan hari, ada yang mematenkan penemuan-penemuan baru mereka. Perkembangan sains di Iran dapat dilihat dari perkembangan publikasi ilmiah yang mereka hasilkan. Dalam penelitian 'string teory', kimia dan matematika, Iran merupakan nomor 15 di dunia, bersaing ketat dengan Amerika Serikat dan negara-negara eropa. Dalam artikel D. A. King yang dipublikasikan di Nature (15/7/2004) berjudul 'The scientific impact of nations' yang analisisnya menyatakan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara Islam yang termasuk ke dalam negara memiliki 'The scientific impact of nations' tertinggi di dunia. Bahkan Jurnal Newscientist terbitan Kanada menyebutkan kemajuan ilmu pengetahuan di Negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan Negara-negara lainnya didunia.  Daftar 100 orang jenius dunia yang masih hidup yang dikeluarkan oleh firma konsultan global Creators Synectics,  Ali Javan pakar teknik (penemu gas laser) dan Pardis Sabeti ahli biologi anthropologi yang keduanya berkebangsaan Iran termasuk di antaranya.

Kaum perempuan Iran tidak ketinggalan dari  saintis yang umumnya laki-laki. Dalam Festival Internasional Para Penemu Perempuan yang  pertama kali digelar di Korea Selatan tahun 2008, Republik Islam Iran ikut bersaing dalam ajang kompetisi tersebut dan berhasil menggondol 12 medali emas, lima perak dan enam perunggu.  Maryam Islami dari Iran menyandang gelar sebagai penemu perempuan terbaik tahun 2008, padahal saat itu Maryam Islami masih mahasiswa tingkat lima fakultas kedokteran. Lebih dari itu, kita juga mengenal Shirin Ebadi muslimah pertama peraih Nobel juga berasal dari Iran. Hal inilah yang 'memaksa' ulama besar Universitas al Azhar Mesir, Syaikh Thantawi menyatakan, "Kemajuan ilmiah yang telah dicapai Republik Islam Iran merupakan kemajuan dunia Islam dan kebanggaan bagi seluruh umat muslim."

Pada bidang seni kaligrafi, kaligrafer Iran Roin Abar Khanzadeh berhasil membuat Al-Qur'an terkecil yang memecahkan rekor dunia. Yang menarik Al Quran terkecil ini ditulis dengan mata telanjang oleh penulisnya dan bila dijejer hanya menempati ukuran kertas A3. Saat ini sudah ada 1000 pusat lembaga kegiatan berbasis Al Quran di seantero kota Iran yang sedang aktif dan ada seribu perpustakan dan Bank CD Qurani di pusat-pusat kegiatan AlQur'an di Iran. Telah berkali-kali Iran menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pameran Al-Qur'an Internasional. Dengan tingkat apresiasi yang tinggi terhadap Al-Qur'an wajar jika Iran menghasilkan banyak Mufassir terkemuka dalam dunia Islam, diantaranya Allamah Mohammad Husain Thabatabai, penulis tafsir Al Mizan.


Dalam dunia perbukuan dan penerbitan, dibanding negara-negara Islam lainnya, Republik Islam Iran bisa ditetapkan sebagai yang terdepan. Pameran Buku Internasional Teheran merupakan program pemerintah Iran setiap tahunnya yang mendapat posisi istimewa dalam kalender para penerbit internasional. Berdasarkan data yang dirilis, Pameran Buku Internasional Tehran adalah pameran buku terbesar dunia Islam dan menjadi fenomena budaya terbesar negara-negara di Timur Tengah. Hasil-hasil karya dan apresiasi mereka menunjukkan minat mereka yang demikian tinggi terhadap ilmu pengetahuan, wajar jika kemudian Iran termasuk dalam deretan negara-negara maju. Inilah yang membuat Amerika gentar dan khawatir, lewat propaganda-propaganda negatif, melalui tekanan dan embargo ekonomi, mereka berusaha menghambat pertumbuhan dan kemajuan Iran. Sayang, hanya karena beda mazhab, di antara propaganda miring itu, juga disebar dan gencar dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sendiri. Kalau hanya karena mazhabnya berbeda, Syiah dianggap agama lain, dan Iran keluar dari Dunia Islam, kebanggaan apa yang dimiliki Dunia Islam hari ini? Negeri mana-selain Iran-yang dianggap paling mewakili semangat keilmuan dan kedigdayaan Islam?. 

Ismail Amin, sementara menetap di Iran

Setahu saya, tidak ada yang lebih membuat seseorang lebih dikenal dan menjadi besar kecuali lewat transkrip-transkrip pemikiran yang dituliskannya pada berlembar-lembar kertas yang kemudian kita menyebutnya buku. Tidak bisa dipungkiri, kehidupan kita bisa jadi lebih mudah dengan ditemukannya alat-alat teknologi yang dikekinian semakin canggih dan beragam, ataupun banyak nyawa-nyawa kritis yang terselamatkan dengan semakin modernnya peralatan medis. 

Namun adakah yang bisa membendung dan menyembunyikan nama besar seseorang yang terlahir lewat buku ?. Bukankah nama-nama penemu dunia justru kalah populer dibanding para penulis buku ?. Setiap saya berbicara tentang buku, ingatan saya tidak bisa lepas dari Muhammad Hatta. Orang besar yang dimiliki bangsa ini pernah menulis, “Selama aku bersama buku kalian boleh memenjarakanku di mana saja; sebab dengan buku pikiranku tetap bebas."

Lewat tulisan yang dimuat dalam buku Memoir yang ditulisnya sendiri, Muhammad Hatta ingin menunjukkan betapa ia sangat mencintai buku. Bentuk cintanya, tidak hanya dengan membacanya, namun juga membuat buku sendiri. Alam Pikiran Yunani adalah bukti konkret betapa ia memiliki kecintaan yang meluap-luap, sekaligus membuktikan bahwa pikirannya benar-benar bebas merdeka meskipun tubuhnya terpenjara. Buku 'Alam Pikiran Yunani' ditulisnya selama mendekam di Digul 1934 dan berlanjut di Pulau Ende pada 1936.  Dari penjaralah,  "Alam Pikiran Yunani" lahir.

Di sini Hatta tidak sendiri. Saya kira setiap pemimpin pergerakan dan orang-orang yang kemudian hari menjadi besar itu tidak pernah bisa jauh dari buku. Buku bagi mereka adalah nyawa. Adalah nafas panjang. Itulah sumber energi yang menggerakkan tubuh dan jiwa mereka. Dengan membaca, bagi orang-orang seperti Soekarno, Hatta, Soetan Syahrir, Muhammad Yamin, Tan Malaka sampai Amir Syarifuddin  tidak pernah merasa terpenjara dan perlu merasa takut. 

Lihat saja fragmen terfakhir dari perjalanan hidup Amir Syarifuddin, perdana menteri kedua dalam sejarah Indonesia setelah Syahrir.  Beberapa jam sebelum di ekseskusi mati di Solo –karena terlibat dalam peristiwa Madiun 1948- perwira yang bertugas menjaganya bertanya apa permintaan terakhirnya. Ia menjawab dengan meminta buku. Maka disodorkanlah buku Romeo and Juliet karangan William Shakespeare, dan selanjutnya dikisahkan, Amir menghabiskan detik-detik terakhirnya membaca buku dengan tenang sebelum ditembak mati.

Ini hanyalah salah satu fragmen sejarah bangsa yang menunjukkan adanya hubungan yang akrab antara revolusi Indonesia dengan buku.  Karenanya tidak berlebihan kalau Zen Rahmat Soegito mengatakan bahwa Indonesia didirikan diantaranya oleh orang-orang pecinta, pembaca dan penulis buku.  "Banyak sekali fragmen sejarah yang bisa menggambarkan hal itu", tulisnya.

Sebagaimana yang dikatakan Hatta, pikiran tidak pernah terpenjara. Begitu pulalah Kartini. Dalam kondisi dipingit  di 'sangkar' kadipaten ia belajar autodidak. Majalah atau koran terkenal seperti Maatschappelijk werk in Indie, De Gids, De Hollandsche Lelie, De Locomotief sampai karya Multatuli berjudul Max Havelaar di lahapnya. 

Dengan bacaan-bacaan ini ia menuliskan karya-karyanya, tidak hanya buku Door Duisternis Tot Licht (Usai Gelap Berpendarlah Terang) sebagaima yang telah dikenal tetapi juga tercatat ada dua buku kebudayaan, yakni Het buwelijk bij de Kodjas (Upacara Perkawinan pada Suku Koja) dan De Batikkunst in Indie en haar Geschiedenis (Kesenian Batik di Hindia Belanda dan Sejarahnya). Buku yang kedua ini yang membawa ukiran Jepara melanglang ke pelbagai penjuru dunia.

Dengan karya-karya itu, maka Kartini bukan hanya pejuang emansipasi yang lebih dikenal dengan kebayanya, tapi juga ibu epistolari –meminjam istilah Muhidin M. Dahlan- yakni ibu penulis.

Negeri Para Penulis

Kalau Kartini menulis pergulatan pemikirannya dalam bentuk surat dan dikirimkan ke 12 korespondesinya di Belanda. Sjahrir menulis renungan-renungannya dalam bentuk surat kepada istrinya di Belanda, Maria Duchateau. Surat-surat inilah yang kemudian terbit dalam bentuk buku dengan judul Indonesische Overpeinzingen (dalam edisi Indonesia berjudul Rantau dan Perjuangan). Inilah renungan kebudayaan paling cemerlang yang pernah ditulis oleh seorang anak bangsa. Buku ini menunjukkan keluasan erudisi seorang Sjahrir. Ia mampu meletakkan setiap pokok gagasan dalam konteks alur perkembangan sejarah intelektual dunia. Sjahrir mampu menjelaskan seperti apa “hubungan darah” antara satu filsuf dengan filsuf yang lain, dari Johan Huizinga, Dante, Dostoyevski, Benedotte Croce hingga Nietzche. 

Tidak adil kalau saya tidak menyebut nama Tan Malaka sebagai yang termasuk penulis kawakan yang dimiliki bangsa ini. Bahkan bagi saya ia harus berada  dalam deretan teratas. Ketangguhannya dalam menulis benar-benar telah teruji. Produktivitas dan staminanya betul-betul tanpa tanding. Penjara, pengasingan, pembuangan dan penyakit akut tak akan pernah mampu membuatnya berhenti menulis. Hanya kematian yang bisa menghentikannya menulis. 

Coba anda bayangkan, di tengah situasi yang begitu berbahaya pada masa kekuasaan Jepang, Tan Malaka masih mampu menerbitkan sebuah buku dahsyat berjudul Madilog. Tan Malaka menulis Madilog dalam situasi yang sangat terbatas, tanpa referensi, seluruh kutipan diambil dari ingatannya belaka, dengan bahan tulis yang terbatas dalam persembunyiaannya, memaksanya menulis Madilog dengan huruf-huruf yang sangat kecil. Madilog berbicara nyaris tentang semua aspek kehidupan, dari mulai filsafat, ekonomi, kebudayaan, sosiologi, sejarah hingga sains modern, yang meliputi dari matematika, kimia, fisika hingga astronomi. Bukunya menununjukkan betapa hebatnya ia sebagai orang asia, sebagai orang timur dan sebagai orang Indonesia. Dan orang ini pula yang dalam pekik perang kemerdekaan, dalam suasana perang mempertahankan kemerdekaan, masih sempat-sempatnya menerbitkan buku yang berjudul Moeslihat. Bahkan dalam pemenjaraan yang tak jelas selama periode 1946-1948, Tan Malaka tetap meneruskan aktivitas intelektualnya. 

Di penjara itulah Tan Malaka, di antaranya, menulis From Jail to Jail atau Dari Penjara ke Penjara. Hanya peluru tentara republiklah yang kemudian menghentikan aktivitas menulis Tan Malaka. Soekarno sebagai Presiden pertama republik inipun tidak pernah bisa lepas dari kerja-kerja intelektual, membaca dan menulis. Meski negara yang dipimpinnya tengah mengalami kondisi politik dan ekonomi yang porak-poranda ia masih sempat juga  menulis dan menerbitkan buku Sarinah, Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia, 1947.

Karenanya, tidak berlebihan jika menyebut Negara ini dibangun dan diperjuangkan oleh orang-orang yang memiliki kecintaan terhadap buku yang melimpah.

Tradisi cinta buku tidak bolehlah mati. Dan yang paling bertanggung jawab adalah orang-orang melek huruf di negeri ini. Ini penting untuk dilakukan sebab -mengutip Hernowo- "Buku telah membuktikan kepada dunia bahwa dirinya mampu membuat peradaban dapat bertahan dalam kebaikan atau, bahkan terus meningkat menjadi sesuatu yang lebih baik". Sebab jika tidak, bangsa ini akan menanggung dosa sejarah terhadap para pendahulunya. Negeri ini  tidak hanya dibangun dari tetesan keringat dan darah tapi juga tinta.


Ismail Amin, sementara menetap di Iran. 

Iklan dan Dehumanisasi

Posted by ismailamin
Tag :
"Segala produksi  ada di sini, menggoda kita untuk memiliki, hari-hari kita diisi hasutan hingga kita tak tahu diri sendiri….”

(Mimpi yang Tak Terbeli, Iwan Fals)

Dari sepenggal bait syair lagu yang saya jadikan head line tulisan ini, Iwan Fals ingin memberikan warning sebuah efek iklan yang tidak hanya sekedar meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan barang yang ditawarkan tapi juga efek dramatis dan tragis yakni menjadikan orang-orang tidak lagi mengenal dirinya, bahasa kasarnya tidak tahu diri dan secara pelan tapi pasti menuju proses pembinatangan (bahasa halusnya dehumanisasi). 

Bahasa  menggambarkan kekuatan terselubung dari iklan yang dapat memberangus alam bawah sadar umat  manusia yang seakan tak mampu untuk dibendung lagi kemagisan kata-katanya. Tiap hari kita di serang dengan kata-kata, “Anda adalah apa yang anda kenakan.”, “Anda adalah apa yang anda makan.” “Anda begitu berharga, (karenanya kenakan kosmetika ini).” dan berondongan kata-kata menghasut lainnya.?. Akibatnya, kita lihat dengan kasat mata rakyat Indonesia semakin terberangus kemerdekaannya, dan semakin tak berdaya dalam menjaga diri dari penjajahan gaya hidup dan mimpi-mimpi kosong yang ditawarkan media massa –yang dengan bertiupnya angin reformasi, makin menggila dalam menyajikan mimpi-mimpi yang terkadang menghina akal sehat-.

Sebagaimana yang dikatakan Rasulullah, bahwa sesungguhnya diantara bayan adalah sihir (H.R Bukhari). Bayan ? Apakah bayan itu? , bayan adalah komunikasi, baik dalam arti yang luas maupun dalam pengertian yang sempit. Yakni ungkapan kata atau penjelasan. Dan sebagai salah satu bentuk komunikasi baik secara audiovisual maupun tulisan setiap penampilan iklan  didalamnya ada sihir, ada pengaruh yang bisa ditimbulkan. Iklan, bahwa apapun yang diungkapkannya akan mempengaruhi pikiran, merasuki pikiran, dan sangat mungkin mengakibatkan perubahan pada jiwa. 

Sebagai contoh, Buktinya orang kaya acapkali tidak pede (percaya diri) bila tidak mengendarai sedan mewah, tidak makan makanan yang harganya super mahal, dan tidak mengenakan pakaian dari butik-butik eksklusif, tidak menggunakan kosmetik bermerek dari manca negara. Anak-anak orang kaya juga sering diejek bila tidak dibelikan handphone, tidak ikutan mengenakan tas dan sepatu bermerek, tidak membawa mobil sendiri ke sekolah, atau tidak suka menghambur-hamburkan uang di mal-mal dan kafe-kafe terkemuka. Sehingga orang kaya akan merasa terhina jika naik angkot misalnya, jajan di pedagang asongan, membeli baju di Pasar Tradisional ataupun melakukan hal-hal yang tidak ekslusif lainnya.

Inilah kemudian efek psikologis negatif yang akut dari serbuan iklan, yakni adanya perubahan peta mental. Harga diri seseorang terkadang diukur dengan apa yang dimilikinya dalam bentuk material. Sehingga jika sebelumnya pakaiannya mewah, kemudian mengenakan pakaian kumal, ataupun kemudian kosmetik yang dikenakan luntur maka turun pulalah harga dirinya. Terang saja ini adalah bentuk dehumanisasi terang-terangan. 

Mengidentifikasikan seseorang berdasarkan benda-benda mati semacam itu, jelas-jelas melecehkan kemanusiaan. Sebab kita  tidak memerlukan kecerdasan ekstra untuk menyadari bahwa kita, Anda dan saya, pertama-tama dan terutama adalah manusia. Anda bukan mobil, bukan makanan, bukan pakaian, bukan kosmetik. Anda adalah Anda. Dan anda adalah Manusia. Dan apabila sebagai manusia Anda kemudian dilihat, diperlakukan, dihargai dan dihormati berdasarkan apa yang Anda pakai atau miliki, maka apa namanya itu kalau bukan pelecehan?

Saya pernah membaca suatu ungkapan, begini : ”Kalau siapa saya tergantung pada apa yang saya punya, dan apa yang saya punya hilang, lalu, saya ini siapa ?


Mengerti kan maksud saya?  kita adalah makhluk yang diserahi amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi, telah dibekali instrument-instrumen yang luar biasa untuk itu, karenanya tidak pantas dan teramat menjijikkan jika manusia dipersamakan dengan benda mati walaupun itu mobil mewah secinklon apapun bahkan berlian sekarung sekalipun. 

Ismail Amin, sementara menetap di Iran

Penjajahan Dibalik Motif Membela Agama

Senin, 20 April 2015
Posted by ismailamin
“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” [Qs. Al-Hujurat: 9-10]

Islam adalah agama perdamaian, agama yang mengajarkan dan menyerukan kasih sayang. Alternatif perang, hanya diambil dalam Islam untuk menghadapi kezaliman. Siapapun pelaku kezaliman itu, baik dari kalangan umat Islam sendiri, apalagi jika non muslim yang memusuhi umat Islam. Prinsip Islam tegas, tidak ada paksaan dalam agama. Karenanya tidak ada ruang dalam Islam, memilih alternatif perang sebagai media dakwah atau wasilah penyebaran agama, terlebih lagi jika kepentingan untuk melancarkan peperangan tidak ada kaitannya dengan nilai sakral agama, melainkan sekedar ambisi politik atau motif ekonomi.

Merujuk dua ayat yang saya nukil diatas, maka inilah kaidah yang semestinya digunakan otoritas Arab Saudi dalam menyikapi perseteruan politik di Yaman. Bahwa langkah pertama yang harus dilakukan, adalah mendamaikan dua kelompok yang bertikai. Mencari tahu akar permasalahannya melalui dialog dan kerja-kerja diplomasi. Bukan dengan membabi buta melakukan agresi ke Yaman, dengan dalih membantu Mansour al Hadi, Presiden Yaman terkudeta mendapatkan lagi kedudukannya, sesuai permintaannya.

Sebagai negara demokrasi modern, sudah sepantasnya rakyat Yaman menjadi pihak paling otoritatif untuk menentukan masa depan negerinya sendiri. Apakah rakyat Yaman masih menghendaki Mansour al Hadi tetap sebagai presidennya, atau menghendaki alternatif lain?. Berkaca pada kasus Timor Timur, pemerintah Indonesia mengadakan referendum untuk mengetahui suara rakyat Timor Timur, mengenai takdir apa yang mereka kehendaki selanjutnya.

Demikian pula di Suriah. Pasca konflik yang dipicu ketidak puasan pihak oposisi atas rezim Bashar Assad, dengan gentle Bashar Assad mengadakan referendum, yang kemudian rakyat Suriah secara meyakinkan masih menghendaki Suriah dibawah pemerintahannya, sehingga klaim oposisi terbantahkan. Bahkan ketika masa jabatannya telah habis, dan waktunya diadakan pemilu, Bashar Assad kembali menang telak dengan meraup suara 88,7 % sementara kedua pesaingnya, masing-masingnya tidak lebih dari 5%. Dengan dukungan rakyat, posisi Bashar Assad tetap tak tergoyahkan.

Hanya berselang beberapa pekan pasca tersingkirnya Syah Pahlevi dari Iran oleh gerakan revolusi, dan untuk membuktikan pada dunia, bahwa revolusi tersebut murni gerakan rakyat yang menghendaki perubahan, Imam Khomeini mengadakan referendum nasional yang diawasi pengamat internasional. Hasilnya, 98,2 rakyat Iran mendukung dibentuknya negara dengan sistem pemerintah wilayatul faqih, dengan Imam Khomeini sebagai pemimpin tertinggi. Begitu pula, pemilu yang diadakan di Irak dan Mesir pasca kejatuhan rezim diktator Saddam Husein dan Husni Mubarak, untuk menentukan penguasa baru.

Lantas mengapa cara ini tidak diberlakukan sama di Yaman?. Ketika Mansour al Hadi tersingkir, semestinya Arab Saudi sebagai negara paling berpengaruh di Timur Tengah mendorong penghentian konflik dengan mengusulkan referendum, untuk membuktikan klaim tersingkirnya Mansour al Hadi murni karena gerakan rakyat, bukan kepentingan satu kelompok tertentu, tetapi mengatasnamakan suara rakyat. Tapi apa yang dilakukan Arab Saudi? hanya mendengar dari pihak Mansour al Hadi, itu juga berupa permintaan agar kekuasaannya direbut kembali, Raja Salman menginstruksikan perang atas rakyat Yaman. Meskipun dengan dalih hanya menyerang markas Houthi, namun korban dari rakyat sipil tidak bisa dihindari, bahkan termasuk dari kalangan perempuan dan anak-anak, serta merusak fasilitas-fasilitas umum yang vital.

Jawaban yang paling mungkin, dari keengganan Arab Saudi bahkan juga PBB mendorong diadakannya referendum di Yaman, adalah kepastian bahwa suara rakyat mayoritas tidak lagi berpihak pada Mansour al Hadi, yang memang dimata rakyat Yaman  adalah boneka Arab Saudi dan perpanjangan tangan kepentingan Barat. Agresi Arab Saudi dan koalisinya atas Yaman tidak ubahnya invasi yang dilakukan Israel atas Gaza. Serangan 100 jet tempur Arab Saudi yang memborbardir Yaman adalah upaya penjajahan atas negara yang berdaulat. Upaya memaksakan kehendak untuk menentukan penguasa (agar bisa dikontrol) atas rakyat yang punya suara dan kehendak sendiri, adalah pembangkangan pada nilai-nilai HAM dan kemerdekaan suatu bangsa.  

Peralihan Isu

Liciknya, untuk membenarkan agresi dan upaya penjajahan tersebut, dialihkanlah isu, bahwa Houthi diperangi karena mazhabnya, bahwa Houthi yang beraliran Syiah yang sesat dan bukan Islam mengancam eksistensi Haramain (kota suci umat Islam)  di Arab Saudi jika memegang tampuk kekuasaan di Yaman. 

Padahal Ali Abdullah Saleh, presiden Yaman sebelum Mansour al Hadi yang berkuasa 20 tahun lebih di Yaman adalah juga penganut Syiah Zaidiyah, aliran yang juga dianut suku Houthi, namun tidak pernah diusik karena memang pro kebijakan Arab Saudi dan kepentingan Barat. Herannya lagi, dengan dalih isu mazhab itu, segelintir orang yang mengklaim diri ulama Indonesia menyatakan dukungan kepada Arab Saudi dan agresinya. Dukungan tersebut bukan saja melabrak kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan UUD 1945 yang berprinsip tegas mewujudkan perdamaian dunia dan menentang penjajahan, namun juga mengabaikan seruan al-Qur’an untuk mendamaikan sesama muslim yang bertikai.

Memanfaatkan sentimen keagamaan untuk mencapai tujuan memang efektif. Perang salib yang tujuan aslinya perluasan kekuasaan dan kepentingan ekonomi di bungkus dengan motif suci, penyebaran agama. Sehingga pembantaian dan pertumpahan darah, kemudian dinilai sebagai langkah religius membela agama Tuhan. Sejumlah wilayah teritorial Palestina direbut paksa Zionis dengan dalih menjalankan perintah Tuhan dalam kitab Talmud. ISIS ngotot mendirikan Daulah Islam yang diklaimnya perintah Al-Qur’an diperbatasan Suriah-Irak meskipun itu dengan cara-cara yang keji. 

Terakhir, Arab Saudi melancarkan agresi militer ke negara yang berdaulat, dengan dalih mengantisipasi ancaman Houthi yang diklaim memusuhi Arab Saudi, karena berbeda pandangan keagamaan dan aliran. Sayangnya di Indonesia, tidak sedikit yang ikut terbakar isu. Mengaitkan agresi Arab Saudi atas Yaman sebagai upaya membela agama dan umat Islam. Kalau memang Arab Saudi membela kepentingan umat Islam, mengapa bukan memimpin koalisi Arab untuk melancarkan agresi atas Israel, yang telah terbukti melakukan pelecehan terhadap Al Quds kota suci umat Islam dan membawa bencana yang tak terhitung bagi umat Islam?. 

Islam mengajarkan pengikutnya untuk menentang pemaksaan kehendak dan cara-cara brutal untuk mencapai tujuan. Islam mendidik pengikutnya untuk menentang perang sebagai solusi. Kecuali untuk menegakkan keadilan, menindaki yang zalim dan menghantam yang melanggar perjanjian.


Ismail Amin, Mahasiswa Universitas Internasional al Mustafa Qom Republik Islam Iran.  
Tahukah anda, Iran sebelum Revolusi, adalah Negara satelit Amerika Serikat [ AS] di Timur Tengah. Dengan dukungan AS, militer Iran paling mengerikan terlima di dunia.


Melalui Iran, strategi-strategi penjajahan dan penguasaan Timur Tengah dirancang AS. Syah Pahlevi Iran yang didukung AS adalah raja Teluk Persia, raja-raja Arab tunduk padanya. Setiap bicara dengan Syah, mereka gagap, gemetaran, tidak berani menatap mata dan merasa rendah diri. Begitu bersalaman dengan Syah mereka menundukkan badan, setunduk-tunduknya.
Tidak ada dari mereka yang berani menyinggung Iran apalagi mencoba-coba cari masalah. Tidak ada mufti Arab satupun yang saat itu berani menyinggung-nyinggung masalah Syiah, mazhab yang dianut Syah Pahlevi dan mayoritas rakyat Iran. Apalagi sampai menyebut Syiah sesat, Iran Majusi dan musuh Islam terbesar adalah Syiah dan Iran. 


Tahukah anda, kapan pemerintah Saudi mengosongkan Haramain? saat Syah Pahlevi Iran naik haji atau umrah, untuk menjamin kenyamanan dan keamanannya.
Dan sekarang, mengapa yang terjadi sebaliknya? mengapa raja-raja Arab malah berlaku kurang ajar pada Iran, mengapa para muftinya mulai menyinggung-nyinggung Syiah? bahkan menyebut-nyebut Iran bukan Negara Islam melainkan Negara Majusi?

Begitu AS diusir dari Iran oleh Imam Khomeini melalui revolusi Islam. AS kemudian beralih ke Arab Saudi. Raja-raja Arab menyambut AS dengan suka cita. Kejatuhan Syah Iran oleh kebangkitan Imam Khomeini, sekaligus mengalihkan penguasaan Timur Tengah ke raja-raja Arab. 

Iran serta merta terkucil, negara-negara tetangga mulai mengusik dan kurang ajar. Irak dibantu koalisi Arab dan dukungan AS mengagresi Iran selama 8 tahun, Ulama-ulama bayaran dan mufti-mufti sewaaan mulai angkat bicara, mereka koar-koar akan kesesatan Imam Khomeini dan Syiah. Mereka menyebut-nyebut Iran Negara Majusi dan musuh umat Islam. Jamaah haji Iran yang dimasa Syah mendapat pelayanan paling istimewa, sejak kejatuhan Syah, jamaah Iran malah dipukuli, dikejar-kejar dan dianggap hendak mengotori kesucian Ka’bah, bahkan Teluk Persia oleh raja2 Arab mau diganti namanya menjadi Teluk Arab. 
Mengapa terjadi perubahan drastis sedemikian rupa?

JAWABANNYA: Iran yang disegani Arab Saudi adalah Iran yang Syiahnya Syah Pahlevi, Syiah yang pro AS, syiah yang patuh pada kemauan dan pendiktean AS. 
Sekarang Syiah di Iran, adalah Syiahnya Imam Khomeini. Syiah yang menentang keras penjajahan dan penindasan. Bendera yang dikibarkan adalah bendera perlawanan dan penentangan terhadap penjajahan dunia Islam oleh AS dan sekutunya. Syiah yang mendengungkan kemandirian dan pantang dihina.
Syiah yang sesat dimata raja-raja Arab pro AS, adalah Syiah yang bersikeras meninggikan kalimat Tauhid dan penyembahan hanya kepada Allah Swt. Syiah yang menempatkan hanya orang-orang saleh yang berhak memimpin dan menjadi imam atas ummat. Syiah yang mengemban misi suci Islam yang sebenarnya.

Buka matamu, meleklah melihat sejarah, agar kau tidak tenggelam dalam kebodohan dan tipu daya musuh-musuhmu. Musuh kita adalah kebijakan-kebijakan politik luar negeri AS dan Zionis, senjata kita adalah persatuan Islam.

Ismail Amin, sementara menetap di Iran







Welcome to My Blog

Tentang Saya

Foto saya
Lahir di Makassar, 6 Maret 1983. Sekolah dari tingkat dasar sampai SMA di Bulukumba, 150 km dari Makassar. Tahun 2001 masuk Universitas Negeri Makassar jurusan Matematika. Sempat juga kuliah di Ma’had Al Birr Unismuh tahun 2005. Dan tahun 2007 meninggalkan tanah air untuk menimba ilmu agama di kota Qom, Republik Islam Iran. Sampai sekarang masih menetap sementara di Qom bersama istri dan dua orang anak, Hawra Miftahul Jannah dan Muhammad Husain Fadhlullah.

Promosi Karya

Promosi Karya
Dalam Dekapan Ridha Allah Makassar : Penerbit Intizar, cet I Mei 2015 324 (xxiv + 298) hlm; 12.5 x 19 cm Harga: Rp. 45.000, - "Ismail Amin itu anak muda yang sangat haus ilmu. Dia telah melakukan safar intelektual bahkan geografis untuk memuaskan dahaganya. Maka tak heran jika tulisan-tulisannya tidak biasa. Hati-hati, ia membongkar cara berpikir kita yang biasa. Tapi jangan khawatir, ia akan menawarkan cara berpikir yang sistematis. Dengan begitu, ia memudahkan kita membuat analisa dan kesimpulan. Coba buktikan saja sendiri." [Mustamin al-Mandary, Penikmat Buku. menerjemahkan Buku terjemahan Awsaf al-Asyraf karya Nasiruddin ath-Thusi, “Menyucikan Hati Menyempurnakan Jiwa” diterbitkan Pustaka Zahra tahun 2003]. Jika berminat bisa menghubungi via SMS/Line/WA: 085299633567 [Nandar]

Popular Post

Blogger templates

Pengikut

Pengunjung

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

- Copyright © Ismail Amin -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -